Rabu, 04 November 2015

Yatim Tak Selamanya Salah

Yatim Tak Selamanya Salah 
oleh Salni Q

Awan mendung masih bergerak rapih kearah timur. Angin menyertai dengan
senanadung berita yang akan terjadi. Setelah sekian bulan lamanya matahari cukup
memanggang bumi. Mungkin hari ini yang dinanati-nanti., hujan turun yang seolah-olah
tumpah dari syurgawi.
“Mama,utih,,!!!” Tangan mungil Pipit menunjuk baju putih muslim yang baru dibeli oleh
Ratih beberapa bulan yang lalu.
“Yang ini saja, kan itu untuk lebaran besok.”
“Aaah,,,mama utih,,!!!” Pipit tetap memaksa manja. Bagaimana Pipit mau mengenakan
baju yang dipilihkan mamanya, Ratih. Baju itu terlihat kumal dan sempit. Lalu apa yang
dipikirkan Ratih? Padahal ada beberapa baju yang lebih layak untuk dikenakan Pipit,
anaknya yang berumur tiga tahun itu.
“Mamaa..!!!” Kini Pipit menangis. Tapi tetap saja Ratih tak menghiraukan.
Walaupun ia tersenyum pada Pipipt, ia tetap membantu mengenakn baju itu untuk
anaknya.
“Pras,,!!Sudah siap belum?Keburu hujan nanti.” Kali ini Ratih memanggil anak
sulungnya yang baru menginjak dibangku sekolah Menengah Pertama itu. Tanpa
menunggu teriakan yang kedua dari ibunya, Pras keluar dari tirai kain ruang tengah. Tak
jauh berbeda dari Pipit, Pras memakai baju kokoh putih dan celana yang tak layak pakai
bila dilihat.
“Hp kamu jangan dibawa,ya!”
“Yah mah. Pras masukin kekantong deh. Gak akan terlihat orang.”
“Pras nurut sama mama! Mana ada anak yatim yang punya Hp? Nanti uang santunan kita
bisa berkurang kalau ketahuan kamu bawa Hp. Kamu mau uang jajan kamu mama potong
nanti?”
Pras hanya bisa menggerutu kesal. Sementara Bang Urip sudah menunggu hampir
satu jam didepan pintu. Tukang ojek langganan Ratih ini masih dibilang saudara jauh
Ratih. Karena istri Bang Urip satu kampung dengan Ratih. Semenjak Yadi-suami Ratih
meninggal dunia tiga setengah tahun yang lalu, Bang Urip adalah satu-satunya saudara
yang sering Ratih Mintai tolong. Tentu saja dengan tak percuma, Bang Urip selalu
mendapatkan uang ‘cipratan’ dari Ratih setelah ia mengantar si Janda dan anak Yatim itu
pulang-pergi menjemput uang santunan. Ya, sekarang sumber penghasilan utama Ratih
adalah uang santunan atas nama kedua anaknya, Pras dan Pipit. Dan dengan alasan inilah
Ratih bertahan untuk tidak menikah lagi. Bukan hanya sekedar masih sayang dengan
almarhum suaminya saja, melainkan tentu akan lebih untung menerima uang santunan
yang tak pernah ada habisnya dari lembaga-lembaga sosial yang ada. Tak perlu modal
dan tak perlu usaha.
“Cepat, Rat. Sepertinya mau hujan besar ini.”
“Iya, nih Pipit susah diatur dari tadi. Rewel terus.”
“Bawakan saja ia mainannya, supaya tidak rewel disana.”
“Wah iya, sudah jam empat. Bu Haji mungkin sudah ceramah sekarang. Pras, ayo
berangkat!”
Ratih menggendong Pipit yang masih sesegukan, sisah-sisah menagis tadi. Boneka
barbienya juga ikut serta dipelukannya. Setelah mengunci pintu, mereka segera mengatur
posisi duduk dimotor bebek Bang Urip. Pipit duduk dijok paling depan, dilindungi oleh
tubuh besar Bang Urip. Kemudian Pras berada ditengah-tengah jok, disusul Ratih yang
duduk diurutan paling belakang.
Kilasan angina mengiringi mereka. Mengibas-ngibas tubuh mereka dijaln yang
mulai ramai dilalaui pengendara mobil dan motor. Tampaknya berita angin yang
mengatakan akan hujan lebat, membuat pengendar mobil dan motor ingin segera sampai
di rumah. Tak lagi bisa dihindari, mereka berebutan jalan untuk saling mendahului.
Alhasil jaln yang mempunyai lebar tiga meter itu menjadi tidak beraturan.
Awalnya Bang Urip masih dengan kecepatan yang rendah untuk mengimbangi keadaan
dijalan itu. Tapi Ratih selalu mendesak untuk mempercepat motor agar segera sampai di
Pondok Al-Hasyim milik Bu Haji.
“Tolong cepat sedikit, Bang! Sepertinya kita sudah terlambat sekali. Ini sudah waktunya
pembagian amplop untuk anak yatim, nanti kehabisan. Katanya Bu Haji mengundang
lebih banyak anak yatim lebih banyak dari bulan lalu!”
Ratih memperkuat suaranya, agar Bang Urip segera mempercepat motor bebeknya.
“Mama au ujan, bonecanya basah. Puyang aja!” Tentu Ratih tak mendengar celotehan
Pipit yang duduk didepan. Tapi Pras yang duduk ditengah dan mendengar itu, langsung
mentrasfer perkataan Pipit kepada Ibunya.
“Mah, Pipit minta pulah. Bonekanya takut basah!”
“Sudah diam saja, Pra!Sedikit lagi juga sampai.”
Bang Urip tak merespon tanggapan Ratih pada Pipit. Sekarang jalanan mulai
sedikit merenggang. Tapi Bang Urip masih berusaha mengimbangi jalanan dicuaca
seperti ini. Angin masih berhembus kencang. Sementara mereka harus mengejar waktu
untuk segera sampai di Pondok Al-Hasyim. Dari arah belakang terdengar bunyi motor
yang suaranya melengking. Semakin lama suara motor itu semakin mendekati motor
Bang urip. Kecepatan motor itu hampir mengalahkan suara angin yang masih ribut. Dan
ketika berjarak tiga meter dari motor Bang Urip, motor yang berkecepatan tinggi itu tiba-
tiba tergelincir karena ,menabrak batu yang berukuran kepalan tangan. Keseimbanag
motor itu pun hilang. Motor itu akhirnya lepas dari jalur lurusnya dan menyimpang tiga
puluh derajat kearah kiri jalan. Motor Bang Urip yang tepat berada didepannya terseret
kecepatan motor yang oleng itu. Bang Urip, Ratih , dan Pras spontan kaget dan berteriak
histeris. Hanya Pipit yang sempat berucap satu kata dalam teriakannya,”Mammaaa,,,!!!”
Motor Bang Urip ikut oleng. Ia sempat menginjak rem kakinya kuat-kuat. Ditambah rem
tangannya secara mendadak. Akhirnya Pipit yang duduk didepan dan tak punya kendali
untuk berpegangan, langsung terpental kedepan jalan. Sementara Bang Urip, Ratih, dan
Pras ikut terseret motor yang menggosok aspal jalan. Motor yang menabrak Bang Urip
dan Ratih ini sudah lebih dulu menabrak trotoar jalan. Nasibnya tak berbeda jauh dengan
Pipt, pengendara motor itu terpental jauh dari motornya.
Seketika saja situasi jalanan itu tampak histeris penuh dengan teriakan orang-
orang yang menyaksikan kejadian itu. Sementara angina dengan cepat membuat awan
semakin berkumpul dan menurunkan hujan lebatnya. Sekarang darah-darah mereka
bercampur dengan air hujan. Seakan sekaligus menmbersihkan dosa-dosa yang keluar
dari luka mereka.
Tak butuh waktu yang lama,mereka langsung dievakuasi ke klinik terdekat.
Karma bila kerumah sakit akan memebutehkan waktu yang lama untuk pertolongan
pertama. Bang Urip dan Pras masih dapat berjalan setapak demi setapak untuk mendekati
Raiph yang masih terbaring pingsan ditempat tidurnya. Mereka berdua hanya
mendapatkan luka gesekan dikaki dan tangannya. Sementara Ratih mendapatkan luka
lebam didaerah pipi kirinya. Pras menangis sesegukan. Makin lama makin terdebgar
sangat keras. Bang Urip segera menenangkan Pras dengan memeluknya erat-erat. Karena
tangisan Pras itu, akhiryna Ratih bangun dari pingsan. Ia mengeluh kesakitan pada
kepalanya.
Setelah itu, ia mendapatkan Bang Urip dan Pras berdiri tepat disamping tempat
tidurnya. Spontan Ratih lang memeluk Pras yang masih menabgis sesegukan.
“Pras kamu tidak apa-apa nak?Alhamdulillha..!!!Engkau masih melindungi dan
menyelamatkan kami Ya Allah!!” Tangisan Ratih makin menjafi-jadi.selalu
mengucapkan syukur pada Tuhannya. Namun tiba-tiba Ratih teingat pada Pipit yang
belum dilihatnya.
“Pipit mana, Pras?Pipit baik-baik saja kan?Bang Urip, Pipit mana, Bang”
Ia tak juga mendapatkan jawaban. Bang Urip dan Pras masih menangis dengan sesak.
Walau demikian Bang Urip berusaha tetap tenang untuk menyampaikan sesuatu pada
“Rat, mungkin kita semua memang sangat menyayangi Pipit, tapi ternyata Allah yang
leebih saying sama Pipit. Sekarang Pipit sudah tenang disana Rat.” Suara Bang Urip
semakin melemah dan tak terdengar.
Ratih diam kaku. Tak menangis,tak histeris.matanya langsung kosong seperti
mayat. Ia tak meemperlihatkan respon apa pun. Ratih tak bergerak sedikit pun. Ratih
hanya menangkap suara terkhir Pipit ketika kecelakaan itu terjadi, Maammmaaa…!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar