Selasa, 17 April 2012

jakarta islamic school




jakarta islamic school teacher

Pensi PKP Jakarta Islamic School 2012

Start:     Apr 23, '12 08:00a
End:     Apr 23, '12 4:00p
Location:     amphitater jakarta islamic school
yuk dateng yuk
http://maps.google.co.id/maps?oe=utf-8&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a&um=1&ie=UTF-8&q=jakarta+islamic+school&fb=1&gl=id&hq=jakarta+islamic+school&hnear=jakarta+islamic+school&cid=0,0,7649391190133127136&ei=5NGMT56TOs7RrQe71pGlCQ&sa=X&oi=local_result&ct=image&ved=0CAcQ_BI

Inilah 5 Pertanyaan Awal Orangtua Kepada Anak Generasi Internet!


Demi melindungi anak-anak dari ancaman dunia maya, para orang tua sejatinya harus memberikan pengertian agar para buah hati kita selalu mawas diri ketika online.

Namun masalahnya, banyak anak yang segan bercerita atau setidaknya sekadar membuka obrolan tentang aktivitas mereka di internet. Alhasil, para orang tua tidak memiliki bayangan apa yang dilakukan anaknya di dunia maya.

Diperlukan cara khusus dari orang tua untuk mengorek informasi tersebut. Jangan lantas melancarkan berbagai aturan sporadis. Seperti: “Kamu tidak boleh begini, begini, begini…”. Namun lakukan pendekatan yang lebih lembut dan ciptakan suasana yang santai. Sehingga anak-anak jadi lebih mudah untuk bercerita tentang pengalaman berinternet mereka.

Sebaliknya, para orangtua sebelumnya juga harus mempersiapkan diri dengan pengetahuan dan perkembangan teknologi yang sedang tren. Hal ini untuk menyeimbangkan pemikiran antara Anda dan anak-anak.

Kalau beberapa tahun lalu, internet memang masih sebatas membicarakan soal email dan maling list. Namun sekarang sudah zamannya Twitter, Facebook, dan YouTube. Jadi kalau Anda sampai tidak mengerti mengenai situs jejaring sosial itu, sepertinya anak-anak akan malas untuk mengobrol dengan Anda.

Selain itu yang juga tidak kalah pentingnya adalah mengenai bagaimana mengajukan deretan pertanyaan kepada anak-anak.

Berikut adalah 5 pertanyaan awal yang bisa dipakai orangtua untuk memulai mengorek informasi dari anak-anak:

1. Apa yang teman-temanmu lakukan ketika berinternet?

Pertanyaan ini untuk mengalihkan perhatian anak dari pikiran ‘Anda ingin menginterogasinya’. Ini juga terdengar seperti pertanyaan biasa dan natural. Dalam taraf ini Anda akan mendengar jawaban untuk main game, chatting, dan Facebook-an.

2. Situs apa yang baru atau yang sedang ngetren?

Tanya anak Anda kenapa memilih situs tersebut. Anda juga situs apa yang sudah tidak populer lagi dan kenapa.

3. Apa saja situs favoritmu?

Nah, di sinilah Anda mulai masuk ke dunia online anak. Mulai dari pertanyaan yang biasa dan tidak menggurui. Biarkan anak-anak bercerita, namun jangan lupa tanyakan kenapa dia memilih situs tersebut.

4. Apakah pernah menemukan kejahatan di internet?

Anak Anda mungkin tidak mengerti artinya, namun setidaknya mereka tahu contoh-contoh yang telah terjadi. Ceritakan tentang berita kejahatan internet yang Anda ketahui, seperti email dan foto yang tidak senonoh, pencurian data pribadi, account palsu di Facebook dan lainnya. Tanyakan apakah anak Anda juga mengetahuinya.

Intinya, pastikan anak mengerti apa, jenis dan dampak dari kejahatan internet. Hal ini ampuh untuk membuat mereka waspada dan bakal berpikir ribuan kali agar tidak terjerumus.

5. Pernah melihat hal yang membuat tidak nyaman ketika sedang online?

Ini tahap dimana untuk membuat diskusi lebih lanjut tentang kejahatan internet. Seperti membahas kejadian peredaran foto porno dan situs yang berisi konten rasis. Ini bertujuan untuk mendapatkan kepercayaan mereka, sehingga jika sesuatu terjadi di internet mereka bisa sharing ke Anda dan tidak merasa segan.

-

Sumber : Symantec, 25 Februari 2010

Tips Jitu Online Aman Untuk Orang Tua dan Anak

Membiarkan anak-anak bermain di dunia maya tanpa pengawasan berarti membiarkan mereka menghadapi risiko kemanan yang membahayakan. Orang-orang jahat berkedok ‘teman baru’ di internet bisa membuat anak-anak terjebak skenario jahat mereka. Oleh karena itu simak tips-tips berikut, baik untuk orang tua maupun bagi anak-anak.

Untuk Orang Tua:

  • Jangan ragu-ragu untuk ikut terlibat main game dan memahami permainan-permainan yang ada. Anda bisa mencari tahu game yang atraktif serta tipe aktifitas macam apa yang dilakukan di sana.
  • Bicaralah pada anak Anda tentang tipe permainan (game) yang mereka mainkan dan apakah game tersebut termasuk dalam game online.
  • Tanyakan pada anak-anak dengan siapa mereka memainkannya dan apakah chatting menjadi bagian dari game tersebut.
  • Aturan pada cara aman berinternet tidak berbeda jauh dengan saat bermain game di internet. Ingatlah hal ini. Akrabkan diri Anda dengan aturan “SMART” dan dorong anak-anak serta remaja agar melakukannya dengan baik.


Untuk Anak-anak:

  • S – Safe (Aman). Jangan memberikan informassi pribadi saat kamu chatting atau memposting di online. Informasi pribadi ini termasuk alamat email, nomor telepon dan password.
  • M-Meeting (Pertemuan). Memutuskan untuk bertemu orang asing yang dikenal di jagad maya bisa menjadi aksi yang sangat berbahaya.
  • A – Accepting (Menerima). Menerima email, pesan-pesan singkat (IM), atau membuka file seperti foto dan text dari orang yang tidak kamu percaya bisa menggiringmu ke masalah semisal virus atau pesan tak senonoh.
  • R – Reliable (Terpercaya). Seseorang yang kamu kenal di online bisa saja bohong mengenai siapa diri mereka sebenarnya dan informasi di internet juga berpotensi palsu. Lakukan cek ulang dari situs lain, buku atau dari seseorang yang mengenalnya.
  • T – Tell (Ceritakan). Kamu merasa seseorang atau sesuatu di jagad maya mengganggumu dan mencemaskanmu? Jangan ragu-ragu untuk menceritakannya ke orang tuamu atau seseorang yang kamu percaya. Hal ini berlaku juga jika kamu tahu ada seseorang yang diolok-olok di internet.

Sumber: Telegraph

Do & Don’t, Aturan Facebook-an untuk Guru

Jejaring sosial, entah itu Facebook atau Twitter dan situs-situs lain seperti YouTube atau layanan Skype sangat akrab dengan anak muda. Bagi guru hal ini bisa dimanfaatkan untuk menjalin hubungan baik dengan murid dan membantu mereka dalam mengerjakan tugas sekolah.

Akan tetapi harus diingat, tidak semua hal boleh dilakukan di Facebook. Ini untuk menghindari kejadian tidak mengenakkan dan agar hubungan guru-murid tetap terjaga. Berikut sejumlah tips yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh guru saat ber-Facebook ria.

Do:

  • Pisahkan halaman (page) Facebook pribadi Anda dengan halaman yang Anda buat sebagai seorang guru.
  • Jika murid Anda ingin berteman dengan Anda di Facebook, tempatkan di halaman guru.
  • Postinglah foto-foto tentang sekolah/pelajaran/perjalanan. Hal ini akan mengingatkan murid akan hal-hal yang terkait dengan sekolah.
  • Buat group untuk kelas yang Anda ajar. Dengan group tersebut, doronglah murid-murid untuk bertanya mengenai PR sekolah. Bantu mereka dengan mengadakan diskusi dan group wall. Identitas dan rasa memiliki sangat penting dalam proses belajar.
  • Pastikan group yang Anda buat tertutup, sehingga orang harus me-request dulu sebelum bergabung di group tersebut. Dengan langkah ini, Anda bisa memilih dengan bijak siapa-siapa saja yang boleh bergabung.
  • Bergabunglah dengan group-group lain yang terkait dengan sekolah. Hal ini bisa membuat Anda mengetahui apa yang diposting oleh para murid.
  • Postingan yang Anda buat sebaiknya bernilai positif.
  • Gunakan layanan status untuk menginformasikan para murid tentang kebijakan di sekolah.
  • Bermain game-game sederhana bersama para murid di Facebook bisa mempererat hubungan guru-murid.
  • Jika murid Anda ada yang berulang tahun, jangan segan-segan mengucapkannya di Facebook. Ini menunjukan kepedulian Anda.

Don’t:

  • Jangan ngobrol di FB chat untuk menghindari tuduhan yang tidak mengenakkan. Selain itu Anda tidak bisa menyimpan jejak chat yang Anda lakukan.
  • Jangan meng-add murid-murid Anda duluan.
  • Jangan mengirimkan pesan (message) pada mereka kecuali untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Pastikan semuanya terbuka dan bisa dibaca siapa saja. Jika mereka mengirimi Anda pesan di message, balas saja di wall.
  • Jangan melihat foto-foto murid-murid Anda kecuali profile picture. Jika Anda melihat foto yang tidak pantas dan melaporkannya maka hal ini akan merusak hubungan Anda dengan murid. Facebook bukanlah tempat untuk memonitor, dekati murid secara personal untuk memberitahukannya.
  • Jejaring sosial di sekolah bukan ajang untuk kritik. Dengan kehadiran Anda sebagai guru, usahakan untuk merepresntasikan kepemimpinan dan moral.

10 Kata-kata Bijak Tenangkan Anak Korban Cyberbully

Aksi pengolok-olokan, penghinaan atau pelecehan lewat internet (cyberbullying) tak bisa dipandang sebelah mata. Dampak yang terjadi pada si korban akan menuntun korban pada depresi, turunnya kepercayaan diri hingga bunuh diri.

Tidak semua anak mau terbuka melaporkan kejadian bullying, apakah mereka korban atau yang menyaksikan. Banyak anak berpikir bahwa jika mereka melaporkan aksi bullying kepada orang dewasa maka mereka tidak diperbolehkan memakai komputer atau ponsel lagi.

Jika anak Anda menjadi korban bullying atau cyberbullying, cobalah menerapkan beberapa tips berikut ini untuk membantu anak tetap survive. Andapun bisa mengatakan hal-hal berikut kepadanya..

1. Bukan salahmu. Jangan merasa dirimu bersalah karena sebenarnya kamu tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti ini.

2. Kamu tidak sendiri. Kamu bukanlah satu-satunya korban cyberbullying. Ternyata, masih banyak anak di luar sana yang mengalami hal serupa.

3. Jangan dipendam sendiri. Berbicaralah padaku, ceritakan apa yang terjadi siapa tahu aku bisa membantu. Mari kita sama-sama memberitahukan kejadian ini kepada pihak sekolah agar mereka menghentikannya. Memendam perasaan sakit tak akan memperbaiki keadaan. Jika tidak mau bicara dengan Anda, suruh anak bicaralah pada teman sekolahmu atau pihak sekolah.

4. Coba bicara dengan sahabat dekatmu. Terkadang, berbagi dengan orang lain bisa meringankan beban yang kita rasakan. Ungkapkan apa yang kamu rasakan pada temanmu dan pastikan ia menemanimu di saat-saat berat.

5. Jangan membalas dendam. Tak ada gunanya membalas dendam seberapa pun frustasi kamu dibuatnya. Perbuatan jahat hanya akan berbuntut pada hal jahat lainnya. Yakinkan saja pada dirimu bahwa kamu seorang yang kuat dan bisa membuat keadaan jadi lebih baik.

6. Ini bukanlah tentang kamu. Sebenarnya, pelaku cyberbullying adalah anak yang jauh dari kata happy dan percaya diri. Mereka mengolok-olok anak lain agar dirinya merasa lebih kuat karena sebetulnya dalam diri mereka tersimpan rasa tidak aman.

7. Kamu tak bisa mengontrol mereka. Jangan ambil pusing dengan berusaha mengontrol apa yang mereka lakukan, katakan atau pikirkan, karena hal itu tidaklah mungkin. Yang bisa kamu lakukan ialah mengontrol dirimu sendiri dengan pilihan sendiri.

8. Jangan ambil hati perkataan menyakitkan mereka. Kata-kata yang mereka ucapkan memang terasa menyebalkan, namun ingat itu hanyalah kata-kata, jangan terpengaruh. Sekali kamu mempercayai omongan sampah mereka, maka kamu sama saja dengan menyakiti dirimu sendiri, jangan teruskan.

9. Aktiflah di kegiatan luar sekolah. Kamu pasti punya ketertarikan di bidang tertentu kan? Jangan ragu-ragu untuk menuruti hasratmu dengan mengikuti kegiatan positif di luar sekolah sehingga bisa meningkatkan kepercayaan diri.

10. Jadilah teman yang jempolan. Bila kamu ingin punya teman yang bisa dipercaya, menghargai dirimu, menyemangati dan setia, maka mulailah dari dirimu sendiri. Jadilah sosok yang kamu harapkan ada di diri seorang teman, maka seseorang di luar sana akan menemukanmu dan memanggilmu kawan.

Sumber: Safetyweb

9 Tips Menjaga Anak-anak Tetap Aman di Dunia Maya

Sebuah kewajiban bagi orang tua untuk menjaga anak-anak dari bahaya yang mengintai baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Sejumlah kiat di bawah ini ditujukan bagi pihak orang tua untuk menjaga si buah hati tetap jauh dari dampak buruk internet.

1. Masuklah ke dunia online mereka
Keterlibatan orang tua di kehidupan online anak-anak sangat penting apalagi mengingat anak-anak kini akrab dengan internet. Selayaknya Anda mengenal lingkup gerak mereka, pastikan juga Anda mengenal ‘taman bermain’ mereka yang lain. Pastikan mereka berselancar di dunia maya dengan aman.

2. Buatlah Aturan
Kebebasan yang tak ada batasnya dalam kegiatan online akan membawa dampak buruk bagi anak-anak. Akan lebih baik jika Anda membuat aturan mengenai lamanya waktu online dan situs-situs apa saja yang boleh atau tidak boleh mereka kunjungi. Anda bisa membicarakannya dulu dengan mereka, termasuk membicarakan mengenai konsekuensi jika mereka melanggar aturan tersebut. Pasang aturan itu di dekat komputer agar mereka selalu ingat.

3. Ajarkan Mereka Untuk Melindungi Privasi
Anak-anak tidak sepenuhnya sadar mengenai konsekuensi mengumbar informasi-informasi pribadi. Nah, tugas Anda-lah untuk membuat anak-anak tahu mengenai sejumlah tindakan seperti:

  • Jangan pernah memberikan nama, nomer telepon, alamat email, alamat rumah, sekolah atau foto tanpa ijin Anda.
  • Jangan pernah membuka email dari orang yang tidak dikenal.
  • Jangan merespon pesan yang mengganggu.
  • Jangan bertemu dengan orang yang dikenal melalui internet.

4. Jangan Abaikan Lokasi
Alih-alih membiarkan anak Anda memakai komputer di kamar pribadi, tempatkanlah komputer di tempat umum. Hal ini akan memudahkan Anda untuk memonitor penggunaannya.

5. Jadilah Sahabatnya
Anjurkan anak Anda untuk memberitahu Anda jika mereka menjumpai hal-hal yang membuatnya tak nyaman. Yakinkan dia bahwa Anda tidak akan berlebihan, menyalahkannya atau melarangnya berinternet ria.

6. Bekerjasama dengan ISP
Jika memungkinkan, bekerjasamalah dengan penyedia layanan internet (ISP) Anda. Biasanya mereka memiliki parental control gratis yang bisa membatasi pengaksesan anak-anak ke situs-situs tertentu. Software-software parental control juga banyak tersedia di internet secara gratis.

7. Maksimalkan Browser Anda
Apabila ISP Anda tidak memiliki kemampuan di atas, Anda masih memiliki opsi aman dalam berinternet di browser Anda. Misalnya jika Anda memakai Internet Explorer, program Content Advisor bisa Anda jumpai di Tools > Internet Options > Content. Ia akan menyaring bahasa, seks dan kekerasan yang ada di internet.

8. Setting Mesin Pencari Anda
Search engine (mesin pencari) seperti Google menawarkan penyaringan yang bisa diklik di Preferences/SafeSearch Filtering. Saat ia diaktifkan, ia mampu memblokir situs yang memuat konten seksual.

9. Kenali Situs yang Aman untuk Usianya
Anda bisa mencari situs-situs yang cocok untuk usia anak Anda dengan konten yang bervariasi seperti tentang film, musik, sejarah, ilmu pengetahuan, dan lain-lain.

Sumber: Parenting

10 Video Game Berbahaya bagi Anak-anak (Bagian 1)

Tidak semua video game cocok untuk anak-anak. Dengan mengetahui game-game apa saja yang penuh kebrutalan, Anda sebagai orang tua / guru diminta untuk lebih mengontrol penggunaan permainan ini agar anak-anak tidak mengkonsumsi kekerasan demi kekerasan yang diumbar di dalamnya.

1. Medal of Honor
Untuk usia: 18+
ESRB Rating: Mature (Dewasa)
Platform: Xbox 360, PlayStation 3, Windows PC

Game ini berdasarkan kisah nyata, tentang perang di Afganistan. Namanya juga perang, dalam game ini disuguhkan pemandangan-pemandangan mengerikan seperti pembunuhan, mayat-mayat tentara yang berjatuhan hingga darah hasil tembakan yang dibalut dengan grafik yang hampir menyerupai aslinya. Terlalu banyak kekerasan untuk anak-anak di bawah usia.

2. Call of Duty: Black Ops
Untuk usia: 18+
ESRB Rating: Mature (Dewasa)
Platform: Xbox 360, PlayStation 3, Windows PC, Wii

Dengan settingan perang dingin 1960an, game ini ‘menugaskan’ pemainnya untuk melakukan operasi militer di sejumlah negara seperti Vietnam dan Hong Kong. Perkelahian yang brutal di wilayah urban maupun pedesaaan adalah hal yang ditonjolkan di sini. Darah yang membanjiri pakaian adalah pemandangan yang umum dalam game ini sehingga sangat tidak dianjurkan dimainkan oleh anak-anak. Permainan online berseri ini juga berisiko membuat pemain kecandungan dan terjerat dengan permainan yang berkesan tak ada habisnya.

3. Fallout: New Vegas
Untuk usia: 18+
ESRB Rating: Mature (Dewasa)
Platform: Xbox 360, PlayStation 3, Windows PC

Permainan ini memungkinkan pemain bebas menentukan pilihannya. Memilih dengan karakter mana mereka ingin berinterkasi, memilih dialog yang mungkin saja kasar atau berbau seksual, hingga memilih bagian tubuh mana yang ingin mereka tembak melalui gerak lambat. Dengan kelamnya pertarungan antar genk dalam game ini, jelas Fallout diperuntukkan bagi mereka yang sudah dewasa.

4. Castlevania: Lords of Shadow
Untuk usia: 18+
ESRB Rating: Mature (Dewasa)
Platform: Xbox 360, PlayStation 3

Game ini menyajikan darah di mana-mana. Pahlawan dalam game Castlevania adalah anggota dari persaudaraan prajurit suci yang menggunakan rantai cambuk berisi air suci untuk mencabik musuhnnya. Dalam game ini pemain juga akan menyaksikan wanita bertelanjang dada seperti dalam karakter fantasi.

5. Assassin’s Creed: Brotherhood
Untuk usia: 18+
ESRB Rating: Mature (Dewasa)
Platform: Xbox 360, PlayStation 3, Windows PC

Game yang terinspirasi dari kehidupan di Roma jaman dulu ini memungkinkan pemainnya untuk mempekerjakan karakter non-player sebagai pembunuh. Beberapa adegan kekerasan dalam game ini ialah saat pemain melempar kapak ke kepala musuh sehingga darah bercucuran. Adegan semacam ini dipadu dengan tema-tema dan obrolan khusus dewasa.

10 Video Game Berbahaya bagi Anak-anak (Bagian 2)


6. Dead Rising 2
Untuk usia: 18+
ESRB Rating: Mature (Dewasa)
Platform: Xbox 360, PlayStation 3, Windows PC

Pertarungan melawan zombie yang tidak dianjurkan bagi pemula atau anak-anak di bawah umur. Gergaji mesin yang dipakai untuk menghalau jasad-jasad yang berkeliaran di Vegas, ditambah dengan pemandangan wanita dan iklan Playboy yang vulgar. Belum lagi kebiasaan minum minuman keras si pahlawan guna mengembalikan staminanya.

7. Halo: Reach
Untuk usia: 18+
ESRB Rating: Mature (Dewasa)
Platform: Xbox 360

Lagi-lagi kekerasan. Franchise eksklusif yang dimainkan untuk Xbox ini merupakan pertarungan melawan alien. Pemain dituntut untuk memilih senjata favoritnya dan memakainya guna membunuh musuh yang menghadang. Kekerasan yang ada di  game ini masih ditambah dengan kata-kata kasar di dalamnya.

8. Naughty Bear
Untuk usia: 18+
ESRB Rating: Mature (Dewasa)
Platform: Xbox 360, PlayStation 3

Jangan terkecoh dengan nama dan ratingnya yang sebenarnya untuk Teen (remaja). Game ini menyuguhkan pembunuhan yang tak kalah kejinya. Naughty Bear adalah salah satu game terkejam di mana tokohnya menghabiskan waktu dengan membunuh teman-temannya dengan stik golf, menghantamkan kepala mereka di pintu mobil hingga menakut-nakuti mereka sampai mereka bunuh diri. Darah? Tentu saja ada di mana-mana.

9. Mafia II
Untuk usia: 18+
ESRB Rating: Mature (Dewasa)
Platform: Xbox 360, PlayStation 3, Windows PC

Terilhami dari film kriminal, Mafia II mengambarkan kehidupan gangster yang sangat kelam: keterlibatan mereka dengan obat-obatan serta alkohol ditambah dengan perlakuan buruk mereka terhadap wanita.

10. Kane and Lynch 2: Dog Days
Untuk usia: 18+
ESRB Rating: Mature (Dewasa)
Platform: Xbox 360, PlayStation 3, Windows PC

Mengetengahkan 2 pemain yang tanpa moral, game ini lekat dengan kekerasan sehingga menjadikan 2 karakternya cukup melegenda. Lynch ialah sosok psikopat sedang Kane ialah kriminal kelas kakap yang suka melanggar hukum. Kekekrasan mereka lakukan terhdap warga sipi hingga petugas polisi. Grafik yang memukau di sini hanya untuk menonjolkan intensitas pertumpahan darah yang terjadi.

Sumber: Parenting

Ingin Privasi di Internet Aman? Jangan Sepelekan Hal Ini

Privasi di internet adalah sesuatu yang penting dan tak boleh dianggap remeh. Akan tetapi tidak semua orang menyadari pentingnya menjaga privasi di dunia maya. Berikut adalah hal-hal yang seringkali dianggap aman, namun sebenarnya tidak. Segera peringatkan anak-anak Anda setelah membaca daftar di bawah ini.

1. Membiarkan diri bisa dilacak di Facebook
Orang lain bisa mencari Anda di internet dan menemukan akun Facebook Anda sampai Anda memilih untuk keluar dari Public Search Results. Hal inipun berlaku untuk situs jejaring sosial. Bantu anak-anak mengeset privasi Facebook mereka.

2. Menyiarkan keberadaanmu
Saat ini banyak anak muda yang suka bermain dengan Twitter, Foursquare, Loopt, Google Buzz dan Facebook Place untuk ‘check in‘ dan memberitahu orang-orang mengenai keberadaan mereka. Saat mereka memakai program location-sharing, tidak hanya akan membuat rentan terhadap penjahat cyber namun aksi ini juga sama saja dengan memberikan segudang informasi personal kepada para pengiklan.

3. Tidak mengindahkan settingan YouTube Activity Sharing
Settingan di YouTube Activity Sharing memungkinkan pengguna untuk membatasi semua kegiatan di YouTube, termasuk tentang video yang kamu upload, hanya ke teman-teman dekatmu saja. Cek settingan di akun milik anak Anda dan pastikan privacy control-nya di-setting ke ‘only friends’. Dan ingat, apapun yang kamu/anak Anda upload berpotensi dilihat publik, jadi pastikan kamu/mereka memposting konten yang sehat.

4.Tidak pernah membicarakan tentang privasi online ke anak-anak
Semua yang diupload di internet bersifat publik. Sekali kita memposting sesuatu, maka konten tersebut akan bisa dilihat siapa saja, termasuk oleh orang asing. Nah bagi orangtua cobalah diskusi dengan anak tentang bagaimana menjaga privasi mereka.

5. Melalaikan kebijakan privasi
Ketika Anda mendaftar di sebuah situs atau hendak mendownload sebuah aplikasi, Anda diharuskan untuk menerima kebijakan perusahaan mengenai penggunaan informasi pribadi Anda. Meski banyak perusahaan yang mengatakan “kami tidak akan menjual informasi Anda”, namun bisa saja mereka mengingkarinya. Oleh karena itu, baca baik-baik kebijakan privasi yang mereka miliki.

6. Menggunakan nama asli sebagai username di dunia maya dan game online
Meskipun banyak situs anak-anak yang mengingatkan usernya untuk tidak memberikan informasi pribadi dan memiliki filter serta moderator untuk mencegah anak-anak mempostingnya, namun bukan berarti Anda tidak pernah mengingatkannya akan hal itu lagi. Anak-anak yang aktif di dunia maya mungkin saja punya avatar, game tags dan pengenal lainnya. Karena itu Anda harus berulang-ulang mengingatkannya tentang menjaga keamanan informasi pribadi.

7. Online terus
Hampir setiap layanan jejaring sosial memungkinkan Anda untuk mengungkapkan status Anda saat ini. IM (instant messaging) misalnya, memungkinkan penggunanya terlihat online oleh semua temannya saat sign in, sampai mereka memencet tombol invisible. Nah sebenarnya tidak perlu semua orang tahu kalau anak-anak Anda online terus-terusan. Orang yang perlu tahu bahwa anak-anak Anda online terus adalah Anda, orang tua mereka.

8. Membiarkan mereka sign-up tanpa menelisik lebih lanjut
Entah itu aplikasi baru, fitur program baru ataupun ringtone, pastikan Anda menelisik situs tersebut agar informasi yang anak Anda miliki tetap aman dan situs yang dikunjungi bukanlah situs berbahaya.

Sumber: Commonsensemedia

12 Kiat Memonitor Aktivitas Online Sang Anak

Maraknya penggunaan situs jejaring sosial terjadi juga di kalangan anak-anak. Ada hitam, ada putih. Begitu juga dengan keberadaan situs-situs semacam Facebook dan Twitter di mana selain memiliki sisi positif juga memiliki sisi negatif.

Meskipun situs jejaring bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan komunikasi anak dan membantu perkembangan diri mereka, namun para orang tua juga harus memberi perhatian pada efek negatifnya. Keterikatan yang berlebihan dengan dunia maya bisa mengakibatkan anak-anak berisiko terkena cyberbullying, “Facebook depression”, pengaksesan ke konten dewasa hingga sexting (SMS berbau seks).

Untuk itu, guna menghindari hal-hal buruk pada anak-anak di dunia maya, sebaiknya para orang tua mengikuti tips-tips keamanan seperti di bawah ini.

1. Pastikan Dia Cukup Umur
Kebijakan di Facebook menyebutkan, anak-anak di bawah usia 13 tahun dilarang untuk bergabung di situs tersebut. Akan tetapi, siapapun bisa berbohong mengenai usia asli mereka dan membuat akun FB. Nah, tugas Andalah untuk menjauhkan anak Anda dari Facebook jika mereka masih di bawah umur atau sampai Anda merasa mereka sudah layak untuk menjadi seorang Facebooker.

2. Selalu cek Privacy Setting
Browser apapun yang Anda pakai, pastikan Anda selalu mengecek privacy setting untuk penggunaan internet dan Facebook. Aturlah hingga level yang terkuat. Selain untuk melindungi penggunanya, langkah ini juga untuk menghindari komputer Anda  terkena virus. Atur settingan di tiap-tiap browser melalui tab Options kemudian utak-atik bagian cookies, third party dan lain-lain.

3. Gunakan Software Filtering (Penyaring)
Banyak software yang ditawarkan guna memonitor penggunaan internet anak-anak Anda. Bahkan, banyak juga yang bisa melihat apa yang anak Anda ketikkan di internet, waktu yang dihabiskan untuk itu dan semua aktivitas online mereka lainnya. Gunakan misalnya Net Nanny, PureSight PC atau program software Mobile Watchdog untuk memonitor pemakaian ponsel mereka.

4. Kenali Kebiasaan Mereka
Anda tak perlu menjadi mata-mata untuk setiap pergerakan mereka di internet. Yang perlu Anda lakukan sebenarnya ialah agar selalu waspada pada situs-situs yang suka mereka kunjungi dan orang-orang yang sering mereka ajak ngobrol. Anda perlu tahu teman-temannya di sekolah dan teman-teman onlinenya. Selain itu, Anda juga sebaiknya mendapat akses penuh ke akun Facebooknya dan rajin-rajinlah untuk menengok. Cara lainnya, dengan menjadi temannya di Facebook.

5. Letakkan Komputer di Ruang Bersama
Dengan meletakkan komputer di ruang bersama seperti ruang kelurga, Anda akan lebih mudah memonitor aktivitas online si anak daripada jika menempatkan komputer di kamar pribadi mereka.

6. Peringatkan Mereka untuk Menghindari Bentuk Kuisioner, Hadiah dan Kontes

Iklan dalam  bentuk pop-up seringkali muncul dan menggoda anak-anak dengan iming-iming iPad gratis hanya dengan mengklik link yang diberikan. Katakan pada mereka untuk menghindari hal-hal semacam ini karena aksi tersebut sebenarnya adalah trik dari penjahat cyber. Menghindar dari bentuk kuisioner, iming-iming hadiah dan semacamnya akan mencegah pihak lain mencuri informasi personal.

7. Awasi Foto-foto yang Mereka Posting
Usahakan agar Anda mengetahui foto-foto apa saja yang diposting anak Anda di situs jejaring, termasuk foto yang mereka kirimkan via email. Pastikan agar foto tersebut tidak ‘berbahaya’ dan tidak menampilkan lokasi yang gampak dilacak.

8. Jadilah Panutan yang Baik dalam Menggunakan Media Sosial
Jika Anda ingin anak Anda memakai situs-situs sosial dengan baik, maka jadilah teladan yang baik pula misalnya menghindari aksi ngetweet atau mengupdate Facebook saat menyetir. Tunjukkan bahwa Anda bisa menjadi panutan mereka dalam hal pemakaian teknologi.

9. Batasi Penggunaan Ponsel
Batasi penggunaan ponsel seperti halnya Anda membatasi mereka dalam mengkonsumsi TV, komputer atau game. Anda bisa melakukan misalnya membuat kebijakan untuk hanya memakai ponsel di jam-jam tertentu atau setelah mereka mengerjakan PR. Dan jika mereka membawa kendaraan sendiri, katakan pada mereka untuk tidak memakai ponsel saat di jalan. Ponsel harus dalam keadaan off sehingga jika ada telepon atau SMS masuk, mereka tidak terganggu.

10. Ajari Mereka tentang Pentingnya Reputasi Online

Apa yang ada di online bersifat abadi. Agar tidak menyesal di kemudian hari, ajarkan anak-anak mengenai pentingnya reputasi di dunia maya. Jangan biarkan mereka memposting komentar atau foto yang tak sopan. Ada kemungkinan pihak sekolah atau pihak pencari pekerjaan akan menemukan jejak-jejak konten tersebut meskipun sudah dihapus.

11. Edukasikan Mengenai Bahaya Online

Ajak mereka ngobrol tentang bahaya dunia online. Bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk membuat mereka waspada bahwa tidak sepenuhnya internet itu bermanfaat. Menjalin komunikasi terbuka dengan anak-anak adalah hal yang penting ketika mereka mulai mengenal internet.

12. Kenali Teknologi Lebih Dalam
Anak-anak cepat sekali beradaptasi dan menguasai teknologi. Jadi jangan sampai para orang tua kalah dalam hal ini. Pastikan Anda mengetahui fitur-fitur apa saja yang ada dalam gadget yang mereka genggam. Ini adalah tanggung jawab Anda, sehingga saat ada masalah terjadi Anda bisa cepat meresponnya. [Internet Sehat]

Sumber: Parenting

7 Hal Wajib Sebelum Belikan Anak iPhone dan iPod

iPhone dan iPod Touch tak hanya menjadi barang idaman orang dewasa. Anak-anakpun kini banyak yang menginginkan piranti tersebut sebagai kado buat mereka. Namun yang perlu diingat, sebelum Anda membungkus piranti tersebut dengan kertas kado dan memberikannya pada anak-anak, pastikan Anda melakukan hal-hal di bawah ini demi keamanan si buah hati.

1. Buatkan akun iTunes untuk Mereka
Baik iPod Touch maupun iPhone, keduanya mensyaratkan pembuatan akun iTunes untuk memungkinkan penggunanya mendownload musik, film, aplikasi dan konten lainnya dari iTunes Store. Sejumlah orang tua menginginkan anak-anaknya memiliki akun sendiri agar tagihan pembelian tidak mampir di akun Anda. Nah jika anak Anda memiliki komputer pribadi, buatkanlah akun iTunes untuknya di komputer tersebut. Akan tetapi jika komputer yang dipakai adalah komputer bersama, pastikan setiap orang logout dari akun iTunesnya masing-masing setelah selesai.

2. Aktifkan Passcode
Dengan passcode, piranti iPhone atau iPod Touch anak-anak akan terlindungi. Apalagi jika misalnya nanti kecurian, pelaku tak akan bisa mengakses informasi yang ada di dalamnya. Passcode ialah kode keamanan yang harus dimasukkan setiap kali pemakai ingin menggunakan pirantinya. Usahakan Anda memakai passcode yang mudah diingat anak-anak.

3. Instal Aplikasi
Sebelum menginstal aplikasi untuk anak-anak, pastikan kontennya aman dan bermanfaat. Mengingat di dalam App Store terdapat banyak sekali aplikasi, Anda harus pintar memilah-milah aplikasi mana yang tepat dipakai untuk anak-anak.

4. Gunakan Content Restrictions
Gunakan Content Restriction untuk mencegah anak mengakses konten-konten dewasa hingga memakai video chat. Tools yang dibangun Apple di dalam operasi sistemnya ini memang memungkinkan orang tua untuk mengontrol konten dan aplikasi apa saja yang diakses anak-anak.

5. Aktifkan iTunes Allowance
Anda tak ingin kan anak-anak asyik berbelanja di iTunes dengan bebasnya? Bisa-bisa dompet Anda yang jebol. Oleh karena itu, gunakan iTunes Allowance di mana ia akan mengontrol pemakaian dana yang dipakai anak-anak untuk membeli musik dan sebagainya.

6. Belikan Pelindung
Untuk melindungi piranti dari kecerobohan anak-anak, seperti tak sengaja terjatuh, maka pilih pelindung yang aman untuk badan iPhone atau iPod Touch Anda. Sedang untuk melindungi layar dari gesekan, pasanglah screen protector (pelindung layar) agar piranti tetap dalam kondisi mulus.

7. Pelajari Tentang Gangguan Pendengaran
Pelajari mengenai penggunaan iPod yang aman agar anak-anak terhindar dari gangguan pendengaran. Ajak mereka ngobrol mengenai bahaya yang bisa dialami telinga mereka, misalnya jika menyetel volume terlalu keras.

Sumber: iPod.about.com

Amankan Anak Anda dari Ancaman Digital Harassment!

Internet dan anak muda seperti dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Di satu sisi ia membawa banyak manfaat, tapi di sisi lain sejumlah bahaya mengintai, salah satunya adalah digital harassment. Apakah itu?

Digital harassment memiliki pengertian hampir sama dengan cyber bullying alias aksi penghinaan / pelecehan di dunia maya. Bedanya, digital harassment terjadi di antara 2 orang yang sedang menjalin hubungan asmara. Aksi ini dilakukan oleh anak-muda atau remaja dengan menggunakan ponsel, situs jejaring dan piranti komunikasi lain untuk melancarkan gangguan (bully).

Munculnya aksi ini tidak terlepas dengan gaya pacaran sekarang yang melibatkan internet dan ponsel agar dua sejoli tetap saling berhubungan. Namun masalahnya, tidak semua hubungan tersebut berjalan dengan seimbang, terutama di kalangan anak muda yang memiliki emosi yang belum stabil.

Dalam banyak hubungan dijumpai salah satu pihak memanipulasi dan mengontrol, dan pihak lainnya menjadikan piranti digital sebagai suatu pelampiasan. Permintaan-permintaan’ aneh’ pun muncul dari pihak yang lebih kuat seperti meminta password akun-akun sosial, foto-foto seksi, atau memaksa pasangannya untuk memutuskan hubungan online dengan orang-orang tertentu. Selain itu, si pelaku juga suka menyebarkan fitnah, mempermalukan orang lain atau bahkan melakukan teror.

Menurut survey yang dilakukan oleh MTV dan Associated Press di tahun 2009, korban dari aksi tersebut memilih untuk keluar dari sekolah dan bahkan berpikir untuk bunuh diri. Merekapun diketahui enggan untuk melaporkan aksi digital harassment itu.  Sebuah konsekuensi yang tidak boleh dianggap remeh tentu saja.

Kemudian, apa yang bisa dilakukan orang tua mengenai hal ini? Tips-tips berikut ini mungkin bisa membantu orang tua untuk mencegah anak-anak mengalami ‘drama digital’ dalam kehidupan mereka. Jika Anda mencurigai anak-anak menjadi korban digital harassment, lakukanlah langkah berikut ini.
1. Ajaklah diskusi. Anak-anak mungkin menyembunyikan kejadian ini. Akan tetapi, Anda bisa memancingnya untuk berbicara mengenai keamanan online dan perilaku yang bertanggung jawab.

2. Yakinkan pada mereka bahwa Anda selalu ada. Ingatkan pada anak-anak bahwa Anda memiliki waktu saat mereka ingin bicara. Katakan juga bahwa merekapun bisa curhat pada pihak konseling sekolah, pada guru atau bahkan pada orang tua teman.

3. Beri batasan. Ingatkan anak-anak untuk tidak melakukan sesuatu di luar ‘zona aman’ seperti membagi password atau mengirim foto seksual.

Sumber: Commonsensemedia

Jangan ‘Duakan’ Anak Anda dengan Ponsel Kesayangan

Tidak bisa lepas dengan yang namanya BBM-an, SMS-an atau hal-hal yang berhubungan dengan teknologi seringkali dialami oleh siapa saja, termasuk orang tua. Tidak jarang saat berbicara dengan anak, para orang tua melakukannya sembari tangannya sibuk di atas keypad ponsel. Apalagi dengan kemunculan situs jejaring yang membuat candu yakni Twitter dan Facebook, semua orang seakan-akan tersihir untuk selalu update dengan apa yang terjadi di dunia maya.

Mengecek timeline Twitter saat ngobrol dengan buah hati atau mengomentari postingan teman di Facebook ketika menyiapkan makan malam adalah hal yang tidak bisa dibiarkan berulang-ulang terjadi.

Apalagi dengan penelitian yang dilakukan oleh Stanford University, para orang tua yang memiliki kebiasaan di atas harus mempertimbangkannya lagi. Para peneliti menemukan bahwa orang-orang yang berkutat dengan berbagai sumber yang disediakan oleh piranti-piranti elektrobik berkecenderungan untuk tidak fokus atau mengingat sesuatu sebaik orang yang melakukan satu pekerjaan dalam satu waktu.

Meletakkan atau mematikan sementara berbagai piranti elektronik saat anak Anda membutuhkan Anda juga penting bagi anak-anak terutama untuk perkembangan emosi dan kemampuan sosialnya. Jika anak sering menyaksikan Anda mengutak atik ponsel saat sedang bersamanya maka bisa jadi ia mengira sebuah ponsel lebih penting dibanding mereka. Bagi para orang tua yang merasa kecanduan dengan pirantinya, berikut beberapa tips yang bisa diterapkan dan lihat hasilnya nanti.

1. Waktu bertatap muka
Selalu sediakan waktu untuk berbicara secara tatap muka dengan anak-anak. Jangan lakukan hal lain saat Anda berbicara dengan mereka dan paksa mereka untuk menatap Anda ketika kalian berbincang. Jika Anda dan anak-anak mengerti bahwa tatap muka itu hal yang penting, maka mereka akan fokus alih-alih memberikan perhatian ke sekelilingnya.

2. Matikan media elektronik
Matikan televisi, telepon, komputer, game dan piranti elektronik lainnya yang berkemungkinan bisa menggangggu waktu bicara dengan buah hati. Pertimbangkan bahwa piranti-piranti elektronik tersebut bisa berisiko pada kesehatan sosial dan emosional anak.

3. Seimbangkan penggunaan media yang ada
Tidak apa-apa jika anak-anak berinteraksi dengan teman-teman mereka secara online bila mereka memang memiliki waktu untuk memakai teknologi tatap muka seperti video call atau skype.

4. Luangkan waktu untuk makan malam bersama keluarga
Usahakan Anda memiliki waktu untuk dinner bersama keluarga. Nah saat dinner, pastikan semua teknologi tidak ada di atas meja. Akan menjadi hal yang percuma jika Anda makan namun sambil SMS-an. Ajarkan pula hal ini pada anak-anak bahwa untuk ‘terhubung’, mereka harus ‘berhubungan’.

Sumber: CNN

3 Aplikasi untuk Melindungi Anak dari Cyberbully

Teknologi berkembang dengan sangat cepat. Seiring dengan hal itu, penghinaan / pelecehan lewat internet (cyberbully) di kalangan anak-anak ataupun remaja pun semakin meningkat. Kini rumah bukan lagi dianggap tempat yang aman karena aksi cyberbully bisa dilancarkan lewat ponsel maupun komputer.

Menurut iSafe America Inc., 58% anak-anak melaporkan pernah mandapat perlakuan yang menyakitkan dari internet, dan 42% mengatakan mereka telah diintimidasi ketika online.

Anak-anak diketahui mengirimkan pesan berbahaya, memposting pesan sambil berpura-pura menjadi orang lain, memforward pesan pribadi, dan bahkan membuat website yang secara khusus dirancang untuk mengganggu temannya.

Lindungi anak Anda dari cyberbully. Sebelum anak Anda menjadi korban, berikut beberapa aplikasi yang dapat Anda download untuk membantu menghentikan cyberbully.

1. Bully block
Aplikasi cyberbully ini diperuntukkan untuk ponsel Android, bisa diperoleh dari Android Market dan Amaxon App Store. Aplikasi ini dibuat oleh Spy Parent. Bully Block diklaim dapat memblokir dan menjaring teks, panggilan serta gambar yang mengandung kata-kata yang tidak pantas. Terdapat pula fitur “instant reporting” yang nantinya akan mengirimkan pesan-pesan berbahaya tersebut melalui email atau SMS kepada orangtua, guru, atau polisi. Selain itu, Bully Block memiliki opsi “secret recording” yang dapat merekam setiap pelecehan yang terjadi setiap hari dari para pelaku bully.

2. Call Safety
Aplikasi ini dirancang untuk smartphone oleh Web Safety. Call Safety dapat mengeluarkan peringatan / pemberitahuan kepada orang tua setiap kali anak mereka mendapatkan pesan yang tidak pantas. Selain itu, aplikasi ini juga mampu memindai teks untuk mencari 4.000 kata berbeda yang dianggap bermasalah, yang mengindikasikan seorang anak dalam bahaya. Aplikasi ini juga memiliki fitur GPS tracking dan fitur yang melarang remaja SMS-an ketika mengemudi.

3. GoGoStat Parental Guidance
Ini adalah sebuah aplikasi web gratis dimana para orang tua dapat memantau aktivitas internet anak mereka. Anda dapat memantau postingan anak di Facebook. Program ini juga dapat mengeluarkan peringatan kepada orang tua ketika anak memposting foto dan profil yang tidak seharusnya dilihat publik. Dan ketika anak menambah teman baru, Anda juga bisa memantau usia dan lokasi teman barunya itu. Terdapat pula fitur “panic button” yang secara otomatis akan mengirimkan laporan kepada penegak hukum.

Sumber: Parentingsquad

Anak Makin Melek Internet? Berikut Panduan Wajib Dicatat!

Penggunaan internet oleh anak-anak patut mendapat bimbingan dari para orang tua untuk melindungi mereka dari konten-konten yang tidak selayaknya diakses. Bimbingan ini pun sebaiknya juga disesuaikan dengan usia mereka karena harus disadari bahwa makin bertambahnya usia, anak-anak makin melek internet. Berikut disajikan panduan yang dikeluarkan oleh The American Academy of Pediatricians (AAP) dan Microsoft untuk memudahkan orang tua mengawasi penggunaan internet oleh anak-anak berdasarkan umur. Akan tetapi yang sebaiknya diingat ialah, panduan ini tidaklah harga mati di mana Anda bisa menyesuaikannya dengan kondisi anak Anda sendiri.

Kurang dari 10 Tahun

Lakukan pengawasan pada anak sampai mereka berusia 10 tahun. Meski Anda bisa memakai bantuan tools keamanan di internet untuk mengakses kegiatan online mereka dan terlibat dalam pemakaian internet anak-anak, namun akan lebih baik bila Anda duduk bersama mereka ketika berada di depan monitor. Berikut sejumlah tips yang bisa Anda terapkan pada buah hati yang berusia antara 2-10 tahun:
1. Ngobrol santai soal komputer pada anak-anak dan selalu siap serta terbuka pada setiap pertanyaan yang mereka ajukan, adalah langkah awal yang baik. Penuhi rasa penasaran mereka dengan diskusi sehat dan positif.
2. Ciptakan aturan pemakain internet.
3. Katakan pada mereka untuk tidak membagi informasi pribadi seperti nama asli, alamat, nomer telepon, atau password dengan orang yang mereka temui di online.
4. Jika ada situs yang menghimbau mereka agar menyetorkan nama, maka bantu anak-anak untuk menciptakan nama alias.
5. Semua anggota keluarga harus bisa menjadi panutan yang baik anak-anak yang masih baru di jagad maya.

Usia 11-14 tahun

Anak-anak yang memasuki usia ini sudah lebih mengerti internet. Namun, pengawasan dan pemonitoran harus tetap dilakukan untuk memastikan mereka tidak mengakses konten dewasa. Pastikan mereka juga benar-benar mengerti akan apa yang boleh dishare di internet dan apa yang tidak. Berikut sejumlah tips untuk Anda yang memiliki anak usia 11-14 tahun selain tips yang telah disebutkan sebelumnya:

1. Dorong anak Anda untuk bercerita jika mereka menjumpai sesuatu atau seseorang yang membuat mereka tidak nyaman atau terancam saat berada di dunia online. Tetap tenang dan puji keberanian mereka dalam mengatakan hal tersebut pada Anda. Katakan pada mereka bahwa Anda bisa diandalkan apabila terjadi sesuatu yang sama lagi.
2. Tempatkan komputer yang terkoneksi dengan internet di area terbuka untuk memudahkan pengawasan Anda.

Usia 15-18 tahun

Dalam golongan usia ini remaja hampir memiliki akses tak terbatas di internet. Mereka lebih melek tentang internet tapi tetap membutuhkan peran orang tua untuk mengingatkan mereka tentang batasan-batasan keamanan di dunia online.  Berikut sejumlah tips yang sekiranya bisa dilakukan guna melindungi mereka dari bahaya internet:
1. Tetap jaga komunikasi yang terbuka dan positif pada mereka. Jangan berhenti berdiskusi mengenai teman-teman dan kegiatan online mereka.
2. Bikin aturan mengenai penggunaan internet, termasuk pembatasan jam berinternet ria, informasi yang tidak seharusnya diumbar di online, serta panduan tentang berkomunikasi dengan teman-teman online di situs jejaring.
2. Kenali situs yang sering mereka kunjungi dan siapa-siapa yang mereka ajak bicara.
3. Katakan pada mereka untuk tidak bertemu dengan orang yang mereka kenal via internet.
4. Ajarkan pada anak-anak supaya tidak mengunduh program, musik atau file lain tanpa seijin Anda.
5. Angkat topik mengenai konten dewasa serta pornografi saat sedang ngobrol dengan mereka, kemudian arahkan mereka untuk mengunjungi situs-situs kesehatan dan seksualitas.
6. Bantu mereka terhindar dari spam. Anjurkan mereka agar tidak memberikan alamat email dan merespon junk email.
7. Ajari mereka mengenai tanggung jawab, etika dan perilaku online. Tak seharusnya mereka memakai internet guna menyebarkan gosip, melakukan aksi bullying atau mengancam orang lain.
8. Jangan sampai mereka melakukan transaksi online tanpa seijin Anda, termasuk memesan, membeli atau menjual barang di online.

Sumber: Microsoft

6 Alasan Kenapa Anak Boleh-boleh Saja Ngegame

Sebagai orang tua kadang kita berpikir bahwa bermain video game cuma membuang-buang waktu saja. Walhasil kita pun melarang anak kita bermain game. Benarkah begitu?

Ternyata nggak juga lho… Tidak selamanya bermain video game itu merusak anak. Memang kalau mainnya berlebihan (tidak kenal waktu), pastinya bisa saja jadi kecanduan. Sekedar informasi, penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa bermain video game bisa jauh lebih besar manfaatnya daripada negatifnya. Dengan catatan bermainnya harus diawasi dan dijadwalkan.

Beberapa video game ada yang dirancang untuk melatih otak, ada juga yang melibatkan aktivitas fisik sampai kita keringatan seperti bermain Nintendo Wii. Haruskah anak kita wajibkan bermain di luar saja daripada di depan layar? Jawabnya ya tergantung. Karena itu bikinlah kesepakatan dengan anak tentang batas waktu bermain game, dan game mana saja yang boleh ia mainkan. Intinya harus seimbang antara bermain game dan bermain di lingkungan nyata.

Nah beberapa alasan mengapa anak boleh-boleh saja nge-game (beberapa jam dalam seminggu) adalah:

1. Video games melatih problem solving
Bermain video game membuat anak-anak berpikir. Ada puluhan video game yang secara khusus dirancang untuk pembelajaran. Misalnya game tembak menembak yang mengajarkan anak untuk berpikir logis dan memproses sejumlah data dengan cepat.

2. Melatih interaksi sosial
Banyak game yang bisa dimainkan secara online dan offline. Nah disini terdapat unsur komunitas yang dapat mendorong anak untuk berinteraksi sosial.

3. Memberi penguatan yang positif
Secara umum sebuah video game dirancang agar para pemainnya bisa berhasil mencapai target tertentu dan mereka akan mendapat reward atas kesuksesan target yang dicapainya itu. Adanya tingkat keterampilan yang berbeda dan budaya risk-and-reward akan melatih anak untuk tidak takut gagal dan berani mengambil peluang untuk mencapai tujuan mereka.

4. Melatih anak berpikir strategis
Video game dapat mengajarkan anak untuk berpikir obyektif tentang game itu sendiri dan kinerja mereka. Meskipun ada banyak game strategi, kebanyakan game dirancang agar gamer dapat melakukan banyak cara untuk mencapai tujuan. Pemain akan mendapatkan umpan balik terhadap keputusan mereka dan dengan cepat mempelajari kekuatan dan kelemahan mereka sendiri.

5. Melatih anak membangun jaringan (network)
Sebagian besar video game dirancang dengan berbagai pilihan bermain yang kooperatif. Apakah itu melawan alien, memecahkan puzzle, atau berada di tim yang sama. Karena itu video game menawarkan anak-anak banyak kesempatan untuk bekerja sama secara konstruktif.

6. Membantu meningkatkan koordinasi tangan-mata
Bermain video game ternyata dapat meningkatkan keseimbangan dan koordinasi banyak pasien stroke. Bahkan ada penelitian yang menunjukkan bahwa ahli bedah yang rutin bermain video game ternyata dapat meminimalisir kesalahan di ruang operasi daripada non-gamer. Jadi game juga melatih koordinasi tangan-mata.

5 Tip ala Internet Sehat Agar Anak Aman di Dunia Maya

Penulis: Alfa Kurnia, Moms Guide Indonesia

Berselancar di dunia maya pasti sudah jadi hal biasa bagi sebagian anak. Sekadar main games, mencari bahan untuk tugas pelajaran sekolah, bahkan ada pula yang bersosialisasi di social media.

Perlu diingat, internet bukanlah tempat yang aman bagi anak. Menurut Donny Budhi Utoyo (Donny BU), penyuluh Internet Sehat, jika privasi anak seperti data nama, alamat rumah dan sekolah tidak dijaga, sangat mungkin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap keselamatannya.

Begitu juga dengan masalah cyber bullying. Donny mengungkapkan, banyak kasus bully via internet yang dapat mengakibatkan korbannya menjadi terhina hingga depresi. Belum lagi bahaya pornografi yang mengintai anak, meski Depkominfo telah meminta penyedia layanan internet untuk menutup akses ke situs-situs porno.

Bagaimana supaya anak tetap aman berinternet? Berikut tip dari peneliti senior di ICT Watch ini:

1.  Komunikasi

Lakukan komunikasi yang terbuka dan positif dengan anak. Orangtua harus bersikap terbuka menanggapi pernyataan dan keingintahuan anak tentang komputer dan internet. Dengan komunikasi yang hangat, anak mendapat pemahaman yang jelas tentang bagaimana menggunakan fasilitas internet sehingga dampak negatifnya bisa dikurangi.

2.  Tentukan situs-situs yang bisa diakses anak

Tidak semua situs aman dibuka oleh anak, Moms. Bahkan Facebook pun sebenarnya hanya boleh diakses oleh anak yang telah berusia 13 tahun. Sebaiknya pilihkan situs-situs yang memang khusus untuk anak atau situs yang mengandung muatan edutainment (edukasi dan entertainment).

3.  Tetapkan aturan sebelum memberi akses

Keamanan diri anak, termasuk di dunia maya, harus terus dalam pantauan dan bimbingan orangtua. Untuk itu, tetapkan aturan seperti:

  •     Hanya mengakses internet jika ada orangtua atau pengasuh yang mendampingi.
  •     Tidak mudah percaya dengan orang yang baru dikenal.
  •     Tidak boleh memberikan data pribadi kepada orang asing.
  •     Segera melapor ke orangtua jika mendapat perlakuan tidak menyenangkan di dunia maya.

4. Pasang software untuk melindungi anak dari konten berbahaya

Tidak ada teknologi apapun yang efektif 100% mencegah munculnya konten berbahaya. Tapi kita bisa lebih melindungi anak dengan memasang K9 Parental Software atau Norton Family Online. Jika anak masih usia prasekolah, TK dan kelas 1-3 SD,  install web browser khusus seperti Kidzui atau Kidoz.

5. Dampingi anak ketika browsing

Anak yang belum paham benar tentang baik dan buruknya internet, harus didampingi ketika browsing supaya bisa menyaring dan memberi pemahaman tentang apa saja yang dilihat atau dibacanya. Begitu pula saat mengerjakan tugas. Perlahan, ketika anak sudah menginjak praremaja dan mulai bisa membedakan baik buruk – serta paham bagaimana harus bersikap ketika menemukan hal yang buruk di internet, ia bisa kita lepas untuk mengakses internet sendiri. Tentu, pastikan parental software tetap terpasang, ya Moms.

Tulisan ini dikutip dari: http://momsguideindonesia.com

Tips Manfaatkan Social Media bagi Guru & Murid

Siapa bilang jejaring sosial seperti Twitter, Facebook (FB) hanya menganggu belajar? Tunggu dulu, justru dengan situs gaul itu, guru bisa bikin proses belajar lebih menyenangkan. Kalau sebelumnya tanya jawab soal pelajaran hanya berlangsung di ruang kelas, maka dengan adanya social media, hal itu bisa dimungkinkan kapan saja dan dimana saja.  Bayangkan, bertanya soal PR atau tugas-tugas yang kurang jelas cukup melalui Twitter dengan me-mention guru, asyik bukan?  Atau jika ada rumus yang bikin pusing, bisa tanya ke teman yang jago matematika lewat FB.

Biar lebih enak, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan guru untuk mengarahkan pemanfaatan social media ini untuk kepentingan belajar mengajar, misalnya:

  • Tanya, social media apa yang paling banyak dipakai para murid?

Ini penting, sebab sia-sia saja seorang guru aktif di Twitter kalau ternyata muridnya sebagian besar lebih aktif di FB, atau kebalikannya.  Bikin saja survei saat di kelas, dengan demikian guru tahu jenis social media mana yang paling banyak diminati muridnya.  Jika Twitter paling banyak dipakai, maka ajaklah murid yang belum pakai Twitter untuk bikin akun di sana. Lalu mulai deh saling follow. Demikian juga apabila FB lebih banyak disukai, ajak murid lain bergabung di sana.

  • Optimalkan Groups dan komunitas

Dalam beberapa social media seperti FB dan Google Plus, ada fitur Groups yang bisa dioptimalkan sebagai ajang diskusi.  Kalau di Twitter dapat menggunakan hashtag atau taggar agar mempermudah klasifikasi diskusi kelompok dengan siswa dan guru.  Dengan menggunakan fitur-fitur ini maka murid dan guru tidak akan “tersesat” dalam komunikasi yang lebih umum, melainkan lebih spesifik ke pembahasan sesuai topik yang mereka inginkan.  Ini juga menghindari pencampuradukan antara isu pibadi dan isu sekolah.

  • Perjelas batasan privasi

Sampaikan ke para siswa, informasi mana yang layak menjadi konsumsi umum atau yang menjadi privasi. Misalnya ada hal-hal yang hanya boleh di-share ke kalangan sekolah saja, atau boleh dibagikan ke umum. Dengan begitu siswa paham, mana info yang dapat ia share ke teman-teman satu sekolah, atau ke semua teman di jejaring sosialnya.  Ini demi menghindari kesalahpahaman atau bocornya info tertentu yang dapat memicu miskomunikasi pihak luar.

Pemanfaatan sosial media untuk aktivitas belajar mengajar ini sudah cukup banyak dilakukan di negara maju. Ayo, sudah saatnya Indonesia juga membiasakannya. [Internet Sehat]

Sumber artikel: Mashable.com / sumber gambar: districtadministration.com

5 Situs Keren buat Para Ortu

Siapa bilang dunia maya selalu berimbas negatif bagi hubungan anak dan orang tua?  Justru merebaknya banyak situs online dapat dimanfaatkan sebagai media informasi dan komunikasi sesama orang tua dalam mengasuh anak.

Di Amerika, cukup banyak situs yang menjadi wadah macam itu.  Situs-situs tersebut mewadahi interaksi antar orang tua untuk saling berbagi pengalaman dan saling curhat tentang problem keseharian mereka mengelola keluarga.  Wah, situs apa saja itu? Ini 5 di antaranya:

  • CafeMom

Ini merupakan komunitas online paling aktif di negeri Paman Sam.  Para ibu bisa bergabung menjadi anggota, dan mengajukan pertanyaan seputar masalah mereka.  Di sini tersedia tip dan advis-advis seputar pengasuhan anak. Ada juga forum yang terdiri dari banyak kelompok interes, mulai dari politik, pola asuh anak, kewanitaan, hingga teknologi, semua diramaikan oleh para ibu.  Tidak ketinggalan ada opsi hiburan seperti kontes video, polling, games, dan banyak lagi.

  • Mamapedia

Yang unik dari situs ini adalah tampilan timeline sesuai pertumbuhan anak.  Para orang tua bisa saling memantau kemajuan tumbuh kembang anak mereka di sini. Percakapan dalam diskusi juga terlihat di timeline ini, seusai dengan tahap pertumbuhan anak-anak mereka.   User bisa langsung mengikuti topik diskusi sesuai kebutuhan mereka, dan langsung bergabung di dalamnya. Lokasi para user juga dapat terlihat di situs, sehingga mereka dapat tahu keberadaan sesama user.  Tidak kalah menarik, situs ini menghadirkan diskon-diskon khusus dari para sponsor bagi membernya.

  • Minti

Nah, ini situs yang cukup netral, tidak mengandung kata “mama” dalam namanya.  Para ortu bisa langsung mengetikkan pertanyaan di kolom yang sudah disediakan, dan otomatis akan dicarikan jawabannya di arsip Q&A.  Jika belum tersedia, maka harus menunggu respon sesama member.

  • MomsLikeMe

Terdiri dari komunitas di lebih dari 60 lokasi seantero Amerika Serikat. Begitu user mendaftar, maka otomatis akan ditempatkan di kelompok sesuai dengan kode posnya, dan terdireksi ke situs lokal. Selain diskusi seputar pola asuh anak, tersedia juga polling dengan pertanyaan yang berkaitan dengan hal itu.  Kupon diskon dari para sponsor menjadi daya tarik lain situs ini.

  • BabyCenter

Sesuai namanya, situs ini berisi sharing informasi dan komunikasi seputar pengasuhan bayi. Sebenarnya lebih mirip jejaring sosial seperti Facebook, hanya diutamakan pada bayi-bayi para ortu yang menjadi member.