Rabu, 04 November 2015

Cinta Rahasia

Cinta Rahasia
Cerpen oleh Salni Q

Aku tak pernah menyangka bahwa hari ini aku akan ikut dalam kegiatan
Rekuitmen Mentoring. Awalnya ketika aku ditawarkan, aku hanya bermohon pada Allah,
bahwa bila ini baik maka permudahkanlah langkahku dalam menjalaninya. Tapi
sebaliknya jika tidak, maka buanglah jauh dari harapanku untuk mengikuti kagiatan ini.
Ya, pada saat itu aku hanya bermohon sesuatu yang baik saja menurut Allah. Tak disertai
dengan niat yang tulus sedikitpun dari hatiku. Aku mengikuti holaqoh ini bisa dikatakan
baru. Tapi sudah ditawari menjadi mentor. Pertanyaan demi pertanyaan melilit
dipikiranku. Apa yang akan aku ajarkan nanti pada binaanku? Namun seperti air yang
mengalir begitu saja, aku menjalani ketentuan dan ketetapan dari-Nya. Allah memberi
jalan yang begitu mudahnya untukku. Akhirnya aku ikut dalam kegiatan ini. Satu babak
baru dalam pembelajaranku, ‘rencana Allah’. Aku akan tenggelam dalam kegiatan ini
salama tiga hari dua malam, yang bertempat didaerah Bogor. Bersamaan dengan itu
semua, ada perasaan yang begitu indah dan mengalir sejuk dihati. Inikah berkah dari
suatu kebaikan? Sekali lagi, semua ini rencana Allah. Aku hanya meyakini itu selama
menjalani kegiatan ini.

“ Para mentor akan mendapatkan masing-masing enam orang mentee. Setelah
dibacakan nama menteenya, untuk para mentor tolong langsung dibina para menteenya.”
Sie Acara memberi petunjuk job desk untuk mentor, dan aku termasuk didalamnya.
Kuikuiti semua kegiatan yang diberikan. Hatiku makin sejuk menjalankan semua ini. Tak
pernah lupa kuucapkan syukur pada segala ketetapan-Nya. Aku takkan pernah ada
ditempat ini, kecuali dangan izin-Nya.

Aku mendapatkan adik binaan yang lumayan kompak. Mereka menerima
kehadiranku sebagai mentor dengan cukup baik. Dan mudah pula bagiku untuk berbaur
dengan mereka. Selama di Bogor ini, aku mendampingi kegiatan adik binaanku. Adik
yang kami bina, kami sebut dengan mentee. Selama disini, hatiku selalu berdialog dengan
Allah, dengan lubang kecil dihati, dan dengan angin yang berputar-putar menaungi kami.
Karena aku tahu, hanya angin yang dapat mengantarkan suara hati yang masih berbisik
dalam kesenyapan. Takkan pernah tahu, dan tak ada yang tahu.
“ Kak Sofie ikut acara out bond juga kan nanti?”
“ Waduh, kakak gak janji ya Mel. Tergantung mentor yang lain ikut menteenya out bond
atau enggak.” Aku tersenyum pada Melisa, salah satu menteeku.
“ Uh, curang. Giliran yang kotor-kotor, kakak-kakak mentornya gak ikut semua.” Ketika
dalam obrolan kecil kami, tiba-tiba Mba Anis datang mendekati kami dan langsung
menanggapi komentar dari Melisa.
“ Tenang saja, semua itu belum diputuskan sama Sie Acaranya. Mungkin saja nanti kami
ikut dengan kalian nanti di acara out bond.”

Aku hanya tersenyum simpul melihat Melisa yang memperlihatkan senyum
kemanangannya. Dia sangat berharap aku ikut serta dalam acara penutupan ini. Ya,
memang tergantung Sie Acara. Kami para mentor hanyalah pengisi acara yang
mempunyai kedudukan fungsioanal di acara ini. Semilir angin membelai lembut lagi
hatiku. Aku merasakan kesejukan didalamnya, hinagga terasa amat indah. Karena semua
ini tentu suatu rencana dari-Nya.

Acara out bond ini berjalan dari pagi sampai sore nanti. Dan seperti yang aku
harapkan, para mentor tidak diwajibkan untuk mendampingi menteenya diacara ini. Tapi
tak lepas dari tanggung jawab, aku harus memberi pengertian tentang alasanku pada
mentee-menteeku, mengapa aku tidak bisa mendampingi mereka diacara ini.
“ Kakak sudah gak ada persiapan baju bersih lagi sayang. Kakak juga sedang datang
bulan, jadi sepertinya kakak agak risih kalau ikut serta dengan kalian. Kakak minta maaf
ya?” Aku tersenyum manja, agar mereka menerima alasan yang aku berikan.
“ Oke Kak. Kita ngerti deh. Tapi Kak Sofie tetap ngeliatin kami main ya nanti!”
“ Oh, kalau itu sih siipp!!!”

Semua berjalan dengan sangat menyenangkan. Aku dapat melihat wajah-wajah
menteeku bisa tertawa lepas dalam acara Out bond ini. Semua panitia, para mentor, dan
mentee-mentee berhamburan memeriahkan acara puncak ini. Entah sebagai penonton,
sebagai paserta, maupun yang menjaili peserta Out Bond. Aku amat meniknati suasana
seperti ini. Dimana mungkin aku tak kan pernah merasakannya lagi dilain kesempatan.
Allah memberikan keindahan didalam hatiku. Memberikan kesempatan pada angin yang
membawa bisikan yang harus tetap senyap didasar hati. Tentu hal inilah yang membuat
indah suasana ini. Semua adalah rencana Allah, ketetapan Allah. Dan sekali lagi aku
bersyukur menyebut nama besar Allah. Membiarkan hanya Dia yang tahu apa yang
terjadi disini. Aku akan tetap mengikuti kebaikan menurut-Nya. Hingga mungkin tiba
saatnya, sesuatu akan menjadi sangat indah bila datang pada waktunya.

Sampai pada hari terakhir, aku mengadakan mentoring untuk menteeeku disela-
sela waktu istirahat. Kami mengadakan muhasabah kecil tetang kegiatan selama tiga hari
ini. Aku juga tak lupa untuk mengingatkan mereka agar tetap selalu silaturahmi denganku
dan teman-teman yang lain setelah acara ini berakhir. Kumemohon pada Allah agar hasil
kegiatan ini dapat bermanfaat untuk kami semua dan tetap mengikat jiwa persaudaraaan
kami melalui doa alma’tsurat yang sering kami baca bersama selama berada disini.

Dan sore ini kami semua berkemas-kemas. Para panitia mengumpulkan peserta
didepan aula villa. Khususnya Sie Acara yang tetap setia mendampingi mentee dan para
mentor, selalu berusaha membuat kami nyaman selama acara ini berlangsung.
Kenyamanan hati kurasakan bersamaan dengan kindahan yang masih berbisik. Walau tak
kupancarkan melalui kata-kata, tapi senyuman ikhlas pasti lebih baik untuk saat sekarang.
Lagi-lagi kubiarkan Allah untuk menentukan akhir dari indahnya hati ini.

Semua lelah dan senang tergambar jelas diwajah para mentee. Senja yang
membuat lukisan hati kami semua menjadi makin sempurna indahnya. Sejuk suasana hati
insyaAllah menambah keimanan yang masih berproses dalam jiwa kami. Dan tak
beberapa lama bus sewaan yang menjemput kami datang tepat pada waktunya. Mentee
dan para mentor dibagi dalam beberapa kelompok agar terlihat teratur. Ku sejajarkan
langkah dengan para menteeku. Membantu mareka bersigap menaiki bus dan
mendapatkan kursi yang nyaman untuk mereka. Setelah kurasakan semuanya dalam
kondisi baik, kupenuhi suara hati untuk keluar dari bus.
“ Mau kemana lagi kak?” Melisa bertanya padaku.
“ Kaka gerah, sepertinya angin diluar segar. Nanti kalau bus-nya mau berangkat kakak
cepat-cepta naik ko. Ok?”

Setelah sampai didepan pintu bus, angin segar segera menyambutku. Kulihat Sie
Acar masih sibuk mengatur ketertiban peserta untuk mendapatkan masing-masing tempat
duduknya. Rencana Allah kembali lagi bermain. Dalam satu waktu dan satu detik ketika
angin membelai lembut senyum yang sedang merekah, dua pasang mata bertemu dalam
satu cahaya. Kembali hati ini merasakan keindahan yang begitu damai. Lalu dengan cepat
dua pasang mata yang tertangkap dalam sinar, kembali menunduk dalam malu. Aku
segera kembali menuju pintu bus dan mengambil posisi duduk senyaman mungkin.
Kupejamkan mata dengan merasakan keindahan yang baru saja terjadi. Semua masih
dalam rencana Allah, maka indah yang kurasakan adalah ciptaan dari rahasia-Nya tentang
semua ini. Diseberang sana, seseorang yang sempat tertangkap sinar matanya olehku,
kembali disibukkan dengan tugasnya sebagai Sie Acara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar