Rabu, 04 November 2015

Demonstrasi Nurani

Demonstrasi Nurani
Cerpen oleh Salni Q

Matahari yang membakar bumi, membuat rombongan para demonstran makin
menyla-nyala meneriakan yel-yel yang dibawa atas nama rakyat. Seolah predikat
pahlawan tanpa tanda jasa yang sering melekat pada guru, patut juga disandang untuk
para mahasiswa ini. Tak mengenal panas, tak mengenal lelah, tak melihat status, apa lagi
memikirkan siapa yang akan membayar mereka untuk capek-capek berjalan jauh sambil
teriak sepanjang jalan. Mereka hanya tahu, semua ini untuk rakyat, demi masa depan
Indonesia, dan demi kelangsungan hidup anak-cucu mereka. Para mahasiswa ini tak ingin
keturunannya kelak hanya akan diwarisi sisah-sisah kekayaan Indonesia akibat
perampokan para korupsi. Jiwa muda mereka makin membakar lagi semagat mereka.
Setidaknya mereka akan menjadi salah satu pencatat sejarah Indonesia ‘Masiswa turun
kejalan mengaspirasikan suara rakyat!’ Mungkin pemikiran ini juga ada dibenak sebagian
kecil dari mereka. Karena tak menutup kemungkinan hanya sedikit saja yang tahu tujuan
dari aksi demonstrasi yang mereka lakukan, tak terkecuali Jay. Tapi walau demikian yang
penting aksi ini bisa berjalan lancar, teratur, tercapai apa yang mereka inginkan, dan
meriah. Jay masih berada di tengah-tengah rombongam mahasiswa itu. Sesekali ia
mengeluarkan telapon selulernya dari saku celana kiri. Jay sangat terganggu dengan nada
panggilan dari telepon selulernya. Saking seringnya telepon itu berbunyi, akhirnya Jay
menonaktifkannya, dan Jay melanjutkan lagi aksi demonstrasi itu
Tepat didepan gedung KPK yang gagah berdiri, mahasiswa yang menjadi jura
bicara, masih terbakar semagat aspirasi
“ Ketua KPK harus bersih! Bukan pembunuh, bukan penjilat!!!”
“ Betul!! Betul!!”. Pengikut setia jubir tersebut makin menyalakan suasana semangat
“ Indonesia akan semakin bobrok moral jika pemimpin itu masih terus dipertahankan!!
Indonesia akan semakin hancur, Indonesia akan semakin miskin, darah rakyat tak bolah
lagi dihisap. Masyarakat tak lagi bisu! Masyarakat tak lagi buta! Kami bukan orang-
orang yang bisa dibodohi lagi!!! HIDUP RAKYAT INDONESIA, HIDUP!!!”
“ Hidup, Hidup, Hidup!!!”. Semua kekesalan dan kekecewaan tumpah pada teriakan itu.
Hampir satu setengah jam lebih para mahasiswa itu berorasi. Tentunya banyak
energi yang mereka keluarkan untuk aksi ini. Dan ketika matahari bergeser tiga puluh
derajat dari posisi tengahnya, Jay tak kuat lagi berdiri mendengarkan orasi. Kering
tenggorokan dan gendang perutnya semakin kompak saja melantunkan lagu
keroncongan. Tentunya ia tak bisa mengandalkan subsidi konsumsi dari kelompok
teman-teman demonstrasinya. Jay tahu mereka-termasuk Jay sendiri, hanya punya modal
nekad untuk datang dan berorasi ke gedung ini. Dan saat itu juga akhirnya Jay menepi
kepinggir trotoar jalan. Ia segera mencari tukang asongan makanan atau minuman.
Biasanya dalam kesempatan besar ini tukang asongan memang selalu siap siaga menjadi
penggiring setia peserta demonstrasi. Karena bagi mereka, kesempatan ini seperti lapak
gratisan untuk menghabiskan barang dagangannya.
Tukang minuman yang nampak tua, dengan perlahan mendekati Jay. Ia
menawarkan Aqua dingin dan minuman berbagai warna lainnya.
“ Aqua dinginnya, Nak?”. Senyum pedagang tua itu mengembang bersamaan dengan
minuman yang ia sodorkan untuk Jay.
“ Iya, Pak. Aqua dinginnya dua”. Seketika itu juga Jay langsung membuka minuman itu
dan meminumnya hanya dengan satu tarikan nafas saja.
Pedagang tau itu sekarang duduk disamping Jay dan melihat kearah gerombolan
mahasiswa yang sebagian besarnya masih berorasi.
“ Sudah kecapean ya, Nak? Gak ikut gabung lagi sama temen-temennya disana?”
pedagang tua itu sekarang mengajak Jay berbasa-basi.
“ Iya, Pak. Nanti saya gabung lagi. Saya kecapean. Ditambah lagi saya belum makan dari
pagi. Bapak punya jajanan makanan?”
“ Oh, saya cuma jual minuman saja”. Senyum itu kembali merekah, “ Kalau mau, saya
belikan makanan Warteg diujung jalan sana saja gimana?”
“Oh, tdak usah, Pak. Terimakasih, saya merepotkan saja. Nanti biar saya beli bareng-
bareng sama temen saya saja. Sekarang saya hanya merasa haus ko” dengan cepat Jay
menolak tawaran pedagang tua itu.
“ Kenapa Bapak tidak sekalian jual makanan saja. Kalau kesempatan aksi demonstrasi
seperti ini, biasanya banyak yang berniat beli, Pak. Dan Bapak bisa untung besar kan?”
“ Hehe, modalnya gak ada, Nak. Ini juga belum tentu cukup untuk makan.”
“Emm, maaf Pak sebelumnya. Saya rasa Bapak sudah terlalu tua untuk berdagang.
Mungkin boleh dikatakan Bapak sekarang seusia dengan kakek saya. Bukankah
seharusnya Bapak dirumah saja? Biar anak atau cucu Bapak yang menggantikannya?”
Sebelum menjawab pertanyaan Jay, pedagang tua itu mendesah panjang dan kembali
diikuti dengan senyum tenangnya.
“ Andaikan saya diberikan piliha Nak. Tapi sayangnya Bapak gak punya pilihan.”
“ Maksud Bapak? Tapi Bapak punya anak atau cucu kan?”
“ Ya, Alhamulillah saya punya lima anak. Dua perempuan dan tiga laki-laki.”
“ Lalu sekarang mereka kerja apa, Pak?”
“Saya tidak tahu. Karena sekarang kami sudah ndak tinggal bersama lagi.” Kini mukanya
sedikit memberat dari sebelumnya, tatapan matanya mulai jauh kedepan seperi melihat
masa lalunya yang mulai menari-nari. Dan sekarang pedagang tua itu mulai bercerita
panjang.
“ Mungkin mereka malu punya Bapak keré seperti saya. Saya pingin anak-anak saya
sekolah supaya tidak bodoh seperti saya. Rumah yang jadi harta satu-satunya juga sudah
saya jual. Tapi setelah mereka ke Jakarta dan punya kerja mereka sudah tidak balik lagi
jenguk-jenguk saya.”
Muka Jay sekarang juga mulai memberat. Seperti ikut merasakan setiap desahan
berat yang pedagang tua itu alami. Adakah kisah ini dalam kehidupan sekarang.
Bukankah semua ini Jay sering mendengar hanya melalui dongeng-dongeng saja?
“ Berapa lama Bapak tidak dijenguk anak-anaknya?”
“ Saya suda capek menghitung tahun, Nak. Saya juga sudah terlalu capek untuk hidup
menunggu, walaupun saya sungguh kangen sekali sama mereka.” Suara pedagang tua itu
melemah. Tenggorokannya mulai tercekak karena menahan sedih. Tak mungkin dielakan
lagi bahwa kisah itu pasti akan membuatnya menangis. Walaupun pada awalnya ia berusa
untuk tetap tersenyum.
Jay tidak bisa lagi berkata-kata. Mungkin sekarang Jay mulai merasakan sesak
yang mendalam didadanya. Kelelahan dan kepenatannya jauh-jauh berjalan kaki dan
teriak berorasi seperti tak ada hasilnya. Kini nuraninya yang mulai membuncah. Jay
teringat sesuatu dan memikirkannya dengan serius. Adakah yang ia lakukan
berdemonstrasi untuk kepentingan rakyat dan mengutuk para pejabat yang berkorupsi,
sedangkan selama ini ia sendiri menutup rapat hatinya untuk mendengarkan keluhan dan
nasihat ayah-ibunya karena ia sering melakukan aksi demonstrasi seperti saat ini. Kedua
orang tua Jay hanya ingin Jay cepat-cepat lulus. Setidaknya walaupun Jay tidak satu
pikiran dengan mereka, Jay bisa berpura-pura untuk mendengarkan kekhawatirannya
bukan? Tak perlu ia membantah, dan menyakiti hati mereka.
Seperti yang ia lakukan tadi. Jay menonaktifkan telepon selulernya karena ibunya
selalu menelpon berulang-ulang. Sementara kalau ibunya tahu ia ikut aksi demonstrasi
seperti sekarang, Jay akan mendapat nasihat dan kekhawatiran yang berlebihan dari
ibunya. Dan Jay sangat bosan dengan semua itu.
Jay perlahan mengambil telepon seluler dikantong kirinya. Ia mencoba untuk
mengaktifkannya kembali. Dan selang beberapa detik, ada laporan panggilan telepon dari
nomor seluler ibunya. Kemudian Jay menerima lima pesan masuk, semua juga dari
ibunya. Jay cepat-cepat membuka pesan tersebut.
Pesan 1 : “ Jay cepat pulang nak. Bapak sakit”
Pesan 2 : “ Jay kamu dimana? Kenapa telepon ibu gak kamu angkat Jay!”
Pesan 3 : “Jay, Bapak masuk rumah sakit Nak. Cepat pulang sayang. Kami gak
lagi marah sama kamu. Capat pulang sayang..”
Pesan 4 : “ Jay jawab SMS ibu, tolong nak!!!”
Pesan 5 : “ Jay ikhlasakan kepergian ayahmu, nak…”
Seketika itu juga Jay tak bisa menahan nuraninya yang meleleh. Pipi Jay juga
mulai basah, tapi mulutnya tersa benar-benar rapat. Kemudian pedagang tua itu melihat
Jay yang menangis sesegukan dan mencoba untuk merangkul serta menenangkan Jay.
“ Sudalah, Nak. Jangan ikut sedih dengan cerita saya. Saya sudah ikut seneng kok,
melihat gak semua anak seperti anak bapak. Contohnya seperti kamu yang brani
membela suara rakyat, iya kan. Orang tua kamu pasti bangga sama kamu!”
Jay makin dalam dengan sesaknya. Ia merasa berani menyuarakan hati rakyat,
tapi nuraninya beku untuk sebuah suara hati orang tuanya. Jay teringat ayahnya kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar