Jumat, 03 Maret 2017

GURU, PROFESI MULIA

Oleh: Tongato
 
Guru merupakan profesi mulia. Orang yang telah menetapkan diri
menjadi guru berarti telah mengambil jalan mulia. Mulia ikhlas mendampingi murid-muridnya. Mulia dalam mengantarkan pemilik masa depan bangsa menjadi orang yang siap menghela masa depannya.


Atjih, S.Pd dalam kegiatan micro teaching 2014


Dalam proses mendampingi murid, peran guru tidak tergantikan. Meskipun perkembangan teknologi telah mempermudah segala hal, namun kehadiran guru tetaplah mendapatkan peran yang utama dalam pendidikan. Meskipun kini bukan satu-satunya sumber belajar, guru tetaplah pemegang kendali dalam proses pembelajaran. Ini bukan saja karena pendidikan berperan memanusiakan manusia yang berarti tidak bisa tergantikan oleh mesin. Tetapi juga anak didik perlu pendampingan dalam menggali potensinya sehingga menjadi aktual.
Dalam berbagai penelitian, baik yang korelasional maupun pengaruh terdapat adanya signifikansi peran guru dalam meningkatkan prestasi muridnya. Adanya guru yang kompeten akan membuat kompetensi anak didik meningkat. Demikian pula strategi dan metode guru dalam pembelajaran yang tepat akan meningkatkan kualitas anak didiknya.
Dalam buku klasik yang disyarahkan oleh Syeikh Ibrahim ibn Ismail berjudul Ta'limul Muta'alim Toriqot al Tangalum dikemukakan bagaimana interaksi guru murid semestinya agar proses dan hasil pembelajaran berhasil sukses. Pesantren-pesantren di Jawa menggunakan buku ini sebagai referensinya sudah sejak lama. Paling tidak ada tiga hal penting dalam hubungan guru-murid:
Pertama ada niat. Niat merupakan pokok segala hal. Segala sesuatu berawal dari niat. Niat yang baik akan menghasilkan hal yang baik pula. Guru berniat anak didiknya mampu menjadi pembelajar. Mengerti bagaimana caranya belajar. Anak didik mau dan berusha untuk menjadi pembelajar sejati. Bersedia bertekun diri dalam menggapai ilmu yang dipilihnya. Niat guru dan anak didik bertemu saling menguatkan dan memberdayakan.
Kedua, kesungguhan dan konsistensi. Segala sesuatu bila tidak sungguh sungguh maka tidak akan melahirkan apa pun. Guru bersungguh sungguh dalam mendidik dan mengajar dan anak didik tak kalah bersemanganya dalam belajar. Maka bertemulah kesungguhan gur dan anak didik sehingga menjadikan sinergi yang menumbuhkan dan mengembangkan. Sungguh saja belum cukup perlu adanya konsistensi. Jika suatu kali sungguh sungguh lain kali tida sungguh sungguh maka tidakbakan membuahkan hasil yang memaksimalkan.
Ketiga, mencintai ilmu dan orang orang yang menguasai ilmu. Indikator cinta ilmu adalah apa yang telah dipahami dari proses pembelajaran, membaca atau berdiskusi segera dicatat. Mencatat adalah cara mengikat ilmu yang telah dikuasai. Kalau binatang buruan yang sudah tertangkap, binatang itu segera diikat dengan tali agar tidak lepas. Apa sudah cukup ilmu yang sudah dipahami hanya sekedar diikat? Tentu tidak. Ilmu yang sudah dikuasai harus segera dikembangkannya. Ilmu hanya bisa berkembang bila disampaikan, dikomunikasikan ataupun diajarkan kepada orang lain. Dengan mengkomunikasikan ataupun mengajarkannya, ilmu kita tidak berkurang. Bahkan malah tumbuh dan berkembang. Ketika ilmu tidak dikomunikasikan, ilmu itu akan beku, layu untuk kemudian mati.
Lalu apa indikator menghormati org2 yang berilmu? Yakni antaranya adalah guru. Ketika kita menghormati orang berilmu, kita rindu, kita ingin selalu dekat dengannya. Senang berlama-lama berbicara dengannya. Tugas seorang guru seperti dokter. Ada kesamaan dalam menjalani dan dampak hasilnya. Dokter pertama-tama ketika berhadapan dengan pasiennya adalah menanganinya dengan baik. Berusaha dengan segala ilmu yang dikuasainya untuk menyembuhkan. Dan akan gembira dan bahagia manakala pasien sembuh dari penyakitnya.
Demikian juga seorang guru, anak didiknya yang memahami ilmu yang diajarkan akan senang. Anak didiknya yg sukses jg akn menggembirakan sekaligus membahagiakan gurunya. Tidak ada iri apalagi dengki bila anak didiknya sukses. Sebaliknya akn gembira dan bahagia. Inilah hakikat dasar tugas guru. Memberdayakan untuk kemudian membahagiakan. Pertama tama membahagiakan ank ddknya utk kemudian membahagiakan driya. Namun selalu iklas dgn kebahagiaan anak didiknya.**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar