Jumat, 03 Maret 2017

GURU ITU EGOIS

Oleh: Tongato

Anatta Sannai, M.Pd dan siswa MTs PKP angkatan 2015

Ada orang tua yang setengah protes ketika ada guru yang menuntut muridnya sempurna dalam mengerjakan soal mata pelajaran yang diampunya. Padahal sebagai guru mata pelajaran tertentu pasti dirinya tidak menguasai seluruh mata pelajaran yang ada. Apalagi untuk tingkat SLTA, yang saat ini mata pelajaran yang ada mencapai sekitar 16 mata pelajaran. Bila guru mata pelajaran diuji dengan mata pelajaran yang bukan diampunya, dapat dipastikan perolehan nilainya tidak sesempurna mata pelajaran yang diampunya. Bahkan mungkin juga nilai ujian mata pelajaran yang diampunya bisa lebih rendah dari nilai muridnya. Ini terbukti ketika guru mengikuti Ujian Kompetensi Guru (UKG) tahun 2015, rerata nilai secara nasional hanya berkisar 5.48.(? cek lg).
Ya, guru itu memang egois. Menuntut nilai muridnya tinggi, tapi dirinya tidak dapat mencapainya. Memaksakan agar nilai para muridnya tinggi untuk mata pelajaran yang diampunya, namun tidak bisa memaksakan dirinya menguasai semua mata pelajaran. Dan semua guru menuntut hal yang sama. Padahal murid memiliki kecerdasan yang berbeda. Ada yang cerdas bahasa, belum tentu cerdas bidang sosial, eksakta maupun seni. Ada yang cerdas seni, namun biasa-biasa saja di bidang eksakta atapun bahasa. Ada memang murid yang multi cerdas, dikaruniai beragam kecerdasan. Namun, jumlah mereka tidaklah banyak. Kalau dihitung barangkali tidak mencapai 10 persen dari murid yang ada.
Ya, memang guru itu egois. Sebagai orang yang telah menjadi guru lebih dari 20 tahun, terasa bahwa sikap egois itu penting dalam menjalani profesi keguruan, bahkan tampaknya harus berani menyatakan bahwa saya harus egois sebagai guru. Tentu dengan catatan egois dalam melihat dan untuk kemudian mengembangkan potensi yang dimiliki para muridnya. Sebagai guru, tidak bisa membayangkan manakala ada guru yang tidak menuntut muridnya mengembangkan potensi secara maksimal. Ada perasaan bersalah bila hal itu tidak dilakukannya.
Apa protes orang tua berdasar? Tentu ada logikanya. Sebab, memang betul ada anak yang hanya memiliki kecerdasan mata pelajaran tertentu. Sedangkan mata pelajaran lainnya biasa-biasa saja kemampuannya. Dan bila dituntut maka hal itu adalah paksaan yang mestinya kurang baik. Lalu apa logika para guru? Sekolah sebagai rekayasa sosial yang bersifat klasikal dimaksudkan untuk mengembangkan potensi para muridnya agar aktual. Dalam proses pencarian, tentu setiap guru menuntutnya agar setiap jengkal potensinya dapat berkembang dan kemudian tumbuh menjadi kemampuan yang aktual.
Di sisi lain, dalam kehidupan bermasyarakat dibutuhkan berbagai kemampuan dalam berinteraksi, baik yang menyangkut diri dengan dirinya maupun dalam kaitannya relasi dengan orang lain. Kemampuan ini tentu mesti diasah dengan baik. Adanya tuntutan guru adalah dalam rangka ini dan juga memaksimalkan semua potensi muridnya. Tidaklah elok manakala ada kesenjangan kemampuan dalam diri murid. Artinya, jangan sampai murid nantinya hanya memiliki kemampuan yang tinggi dalam berhitung, namun lembek dalam berbahasa ataupun sebaliknya. Dan ini semua, kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan, ada dalam setiap mata pelajaran.
Jadi, saya sebagai guru memang harus egois. Karena saya mencintai para murid saya. Saya akan sedih bila mereka memiliki potensi, namun alpa tidak diasahnya. Sebagai guru, saya tidak rela manakala potensi mereka tidak menjadi aktual. Mereka sudah semestinya mendapatkan layanan pengembangan potensi diri secara keseluruhan. Dan bagi yang memang hanya memiliki kecerdasan mata pelajaran tertentu, tidaklah masalah. Asalkan potensi yang ada berkembang secara maksimal. Para guru tentu telah mahfum tentang hal ini. Dan, mereka toh tidak menuntut semua muridnya dapat nilai seratus dalam semua mata pelajaran. Cukuplah potensi mereka terfasilitasi secara optimal.***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar