Jumat, 05 Februari 2016

HALIMAH ASSA’DIYAH



HALIMAH ASSA’DIYAH
oleh Syarifah Soraya -Guru Hafalan Quran MTs PKP-

Wanita beruntung yang dipilih Allah untuk mengasuh, menyusui dan membesarkan Nabi Muhammad SAW adalah Halimah. Seorang wanita dari kabilah bani sa’ad yang tak pernah menyangka namanya akan dikenang sepanjang sejarah. Inilah apa yang dituturkannya :
Aku adalah satu dari kebanyakan wanita thoif yang berprofesi sebagai tukang susu, dalam tiap sekian bulan sekali kami akan turun ke mekkah ataupun kota2 lain di sekitar thoif untuk mengambil anak yang dapat kami susui dan mendapat bayaran dari ayah anak tersebut.
Adalah budaya di mekkah pada saat itu menyusukan bayi2 mereka kepada wanita di desa, dan dianggap tinggal di desa untuk anak balita adalah lebih sehat, lebih ceria dan bahasa mereka lebih terjaga.
Seperti bulan itu, saat desa kami sedang dilanda paceklik kekurangan makanan. Susu dari unta kami tidak mencukupi untuk makanan kami sekeluarga, dan keledai yang kami naiki berjalan gontai, kami aku, suamiku dan bayi dalam gendonganku memutuskan mencari tambahan nafkah turun ke mekkah mencari bayi untuk aku susui. Bersama rombongan 70 an perempuan kami menaiki keledai di barisan paling belakang.
Sampai di mekkah sore hari kami memasang tenda, berencana menginap malam itu dan esok harinya lalu kembali ke thoif setelah tentu saja mendapatkan bayi untuk kami susui.
Malam itu kami tidak dapat tidur nyenyak, unta kami susunya tak mencukupi untuk makan malam, aku masih lapar dan air susuku keluar tak seberapa. Anakku menangis hampir sepanjang malam karenanya.
Keesokan paginya aku dan kawan2 perempuanku menuruni perbukitan dan memasuki kota mekkah. Kami bertanya kepada warganya tentang bayi yang dapat kami susui, dan nama pertama yang kami dengar adalah Muhammad cucu Abdul mutholib pemimpin suku quraisy, semua ingin menyusuinya namun tatkala kami dengar ia sudah tak berayah lagi, semua mengurungkan niat, sebab tentu saja kami tidak ingin menyusui tanpa bayaran. Dan jika ayahnya meninggal siapa yang akan membayar upahnya?
Kami berpencar dan di siang hari semua kawanku telah mendapat bayi untuk disusui, tinggal aku yang kembali ke tenda dengan tangan hampa.
Abu Dhuaib suamiku berkata :
“ tak menyenangkan pulang ke thoif tanpa mendapat apa yang kita tuju, pergi dan ambillah bayi Muhammad itu wahai istriku... siapa tahu dia bayi yang membawa berkah “
Aku setuju dengannya.
Sesampai di rumah Aminah, akupun berbicara dengannya tentang tujuanku dan keinginanku menyusui puteranya. Ia berkata :
“ aku sudah tak bersuami lagi, dan tak tahu bagaimana harus membayarmu “
Kukatakan padanya jangan merisaukan itu, dan kusampaikan apa yang disampaikan suamiku kepadanya :
“ jika memang itu tujuanmu, maka silahkan wahai halimah... engkau tak keliru. Anakku memang membawa keberkahan dan tidak pernah menyulitkan, dari sejak kehamilan aku tidak pernah merasakan kesakitan seperti yang dirasakan kebanyakan perempuan. Ambillah dan buat ia selayak anakmu sendiri..”
Aku menuju kamar yang dia tunjukkan, kusibak tirai penutup ruangan, dan disanalah dia berada
Seorang bayi mungil di atas dipan bertutupkan selimut yang membungkus tubuhnya.
Bayi itu menyadari kehadiranku, ia menoleh dan tersenyum. Duhai... tak pernah kutahu bayi berumur tiga hari yang begitu.. dan aku merasakan sesuatu yang aneh di hatiku. Kerinduan.. seolah ia adalah anakku yang telah terpisah dariku dan kembali kutemu. Aku rindu padanya.. sebuah kerinduan yang membuatku tak sabar mendekatinya. Kuraih ia dengan hati-hati, kudekap di dadaku dan aku memeluknya. Lama... kurasakan mataku menghangat dan air mata menetes darinya satu-satu.
Aku menangis rindu..
Kususui bayi muhammad saat itu juga. Dan keajaiban lain terjadi, entah dari mana aku merasa air susuku penuh, hingga bayi Muhammad meminumnya dengan puas. Aku putar tubuh kecilnya untuk berpindah dari kanan ke kiri, ia tidak mau menyusu, kukembalikan ia ke kanan dan dia menyusu kembali. Ia hanya mau menyusu dari yang kanan, Belakangan baru kutahu, ia melakukan itu untuk menyisakan yang kiri untuk saudara sesusunya, anakku yang kini aku tinggalkan di tenda bersama suaamiku.
Nabi Muhammad SAW mengerti berbagi bahkan sejak bayi.
Malam itu keajaiban lain terjadi, untaku mendadak banyak air susunya, mencukupi untuk makan malamku dan suamiku, tak ada lagi tangis bayi ataupun tidur malam dalam kelaparan, kami terlelap nyenyak malam itu..
Esok paginya, kamipun pulang bersama ke thoif, suamiku menggendong anak kami, dan aku menggendong bayi Muhammad. Dan ajaib, keledai kami yang saat datang paling lemah dan berjalan paling belakang, sekarang melewati keledai2 lain hingga berjalan paling depan.
Seorang teman bertanya keheranan :
“ sempat beli keledai baru, halimah....???”
“ tidak, ini keledaiku yang kemarin”
“ tidak mungkin... bukankah yg kemarin jalannya lambat dan paling belakang ??” 
“ Ya, akupun sedang keheranan..”
Jawabku sambil berteriak.. karena keledaiku berjalan semakin kencang meninggalkannya.

Nabimu Muhammad SAW istimewa sejak balita..
Ia tumbuh cepat luar biasa. Ia telah mampu bicara di usia baru beberapa bulan saja, berjalan di usia 6 bulan dan ia telah ikut menggembala kambing bersama saudara2 sesusunya putra2 abu dhuaib di usia satu tahun..
Semua yang disentuhnya menjadi berkah.. kambing gembalaannya pulang gemuk2 meski di musim kemarau, unta yang dinaikinya diperah mengeluarkan banyak air susu hingga bisa diminum sekeluarga, makanan yang disentuhnya selalu dapat mengenyangkan seisi rumah meski tampak sedikit terlihatnya..
Halimah bercerita :
Muhammad tinggal bersama kami sampai selesai penyusuannya, dan kami harus mengembalikan kepada ibu nya meskipun kami sangat ingin dia tetap tinggal bersama kami, maka aku berusaha membujuk ibunya agar mengembalikannya untuk tinggal bersama kami sampai sang ibu pun mengijinkannya.
Hingga pada suatu hari datanglah anakku dengan panik dan berkata
“ ibu ..ayah..susulilah Muhammad dia tadi dihampiri oleh dua orang laki-laki asing berpakaian putih”. Aku dan suamiku segera berlari mancari Muhammad dan kami mendapatinya berwajah pucat dan gemetar, suamiku mendekatinya dan aku segera mendekapnya.
“ apa yang terjadi padamu nak?”
“tadi dua orang laki-laki asing menghampiriku, merebahkanku,membelah dadaku seperti mencari sesuatu yang aku tidak tahu, kemudian merekapun pergi meninggalkanku”.
Kami berdua segera membawanya kembali ke rumah, suamiku berkatra dengan mata berlinang tampak begitu khawatir,
“ aku takut anak ini tertimpa sesuatu yang kita tidak mampu menanggungnya wahai Halimah, sebaiknya kembalikan ia kepada keluarganya, aku rasa mereka lebih mengerti bagaimana menghadapinya”.
 Kami pun membawanya ke Mekkah.
“ apa yang kau takutkan Halimah?, setelah diceritakan padanya peristiwa pembelahan dada Muhammad, apakah kau takut dia akan diganggu syetan?”
Aku pun menggangguk.
Tidak akan...Allah akan slalu menjaganya, syetan tidak bisa mengganggunya, tahu kah engakau ketika aku melahirkan, aku melihat cahaya meneranginya hingga aku melihat kerajaan Romawi dan Persia, ia bahkan dilahirkan da;lam keadaan sujud dan tanggannya menunjuk ke arah langit, ucap Aminah dengan penuh kesungguhan.
Tapi meski begitu tinggalkanlah dia Halimah, semoga engkau di balas segala kebaikan.
Aku dan suamiku pun pulang dengan kesedihan tak terhingga, belum lagi kesedihan anak- anakku.
Halimah mengakhiri kisahnya.
Berpuluh tahun kemudian beberapa bulan setelah Nabi Muhammad SAWtelah hijrah ke madinah, datanglah rombongan dari thaif hijrah ke madinah. Nabi menyambut mereka, dan ketika dilihatnya seorang wanita tua ada diantara mereka, nabi setengah berlari menghampirinya.. seraya berkata :
“ umi, umi.... Ibuku, dia adalah ibuku...”
Halimah assa’diyah datang hijrah setelah keimanannya kepada seorang Nabi yang dulu dari dadanya Ia menyusu..
Nabi pun membentangkan surbannya, dan mempersilahkan sang bunda untuk duduk diatasnya dan begitu memuliakannya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar